Rabu, 08 Januari 2014

Mewujudkan Cita-Cita???Masih Bisa kah???

Waktu kalian kecil pasti pernah ditanyai tentang cita-cita. Biasanya sih di kisaran umur 2-5 tahun tu pertanyaan "Kalau udah gede mau jadi apa??" kita dengar dari setiap saudara atau sanak famili yang bertemu dengan kita. Atau pertanyaan Bapak/ Ibu Guru SD "Apa cita-citamu??". Nah saat itu kita masih dengan semangat yang menggebu-gebu, bergelora, dan membara untuk menjawab "Mau jadi Dokter, Polisi, Tentara, Guru, Pilot, dan lain sebagainya, yang jelas pasti punya cita-cita. Kalau ada teman kita yang tidak tau ketika ditanya cita-cita, maka kita akan tertawa dan mengejeknya karena kita merasa orang yang tak bercita-cita berarti bodoh. Waktu itu kita juga merasa sangat yakin bahwa kita akan menggapai cita-cita tersebut dengan mudah seolah jalan menuju sebuah cita-cita itu bisa ditempuh dengan sepeda motor atau mungkin pesawat jet.

Sampai masa SMP kita masih punya harapan yang besar untuk mewujudkan yang namanya cita-cita itu tadi. Ketika mengisi biodata dan ada daftar isian cita-cita, kita masih sangat semangat untuk mengisinya dengan harapan kita kelak menjadi seperti apa yang kita tuliskan. Namun mungkin banyak yang sudah mulai sedikit menurunkan standar cita-citanya. Mungkin yang semasa SD bercita-cita ingin menjadi Dokter akan menurunkan niatnya menjadi seorang Perawat atau Bidan. Kenapa?? Yah alasannya sih mungkin karena pengaruh masa pubertas. Mungkin banyak di antara kita yang sudah mulai memiliki perasaan untuk menyukai lawan jenis dan berpikiran untuk menjalin hubungan pacaran. Ini menyebabkan kebanyakan kita memiliki masalah dalam proses belajar sehingga mengikis persentasi pencapaian cita-citanya. Hmmm....susah deh..

Nah, keadaan dan kondisi cita-cita yang paling kritis terjadi pada masa-masa SMA dimana hampir seluruh siswa SMA terjangkit syndrome "Hari gini nggak pacaran???". Di masa ini nih rata-rata siswa SMA kalau ditanya cita-cita jawabnya "Tau ah, gelap...liat ntar aja jadinya apa." Yang masa SMP dulu mau jadi Dokter drastis menurunkan niatnya, atau mending menurunkan, ini malah meng-urungkan niatnya sama sekali untuk tidak mewujudkan cita-citanya dan memilih menikah. Alasannya sih toh ntar terakhirnya bakal nikah juga, ngapain nunggu lama-lama, buang umur aja. Atau ada yang justru lebih memilih untuk bekerja dan menghasilkan uang.

Lantas gimana tu Cita-Cita waktu kecil??? Gak terwujud???

Nah, kalau menurut saya nih ya...bukan nggak bisa sih diwujudkan. Semua itu tergantung dari diri si pencita-cita nya sendiri. Kalau memang ia memiliki keinginan yang kuat untuk mewujudkan cita-cita nya, pasti ia akan giat meraihnya. Tapi menurut saya juga nih ya, zaman sekarang mah sulit mewujudkan cita-cita. Banyak faktor yang mempengaruhi. Contoh kecilnya aja, gua dulu waktu ditanya udah gede mau jadi apa? Gua jawabnya mau jadi polisi biar punya tembak buat nembak orang jahat. Nah kenyataannya sekarang?? Mau jadi polisi bayar ratusan juta euy. Trus nih...pas pada nyoba masuk kuliah. Mau jadi dokter nih ceritanya, tes deh SNMPTN, eh kagak lulus, terakhirnya??? Jadi Guru, Insinyur pertanian, dan lain-lain. Malah menyimpang dari yang dicita-citakan toh??? Itu sih hanya secuil permasalahan terkait pencapaian cita-cita, masih banyak lagi masalah-masalah lain dalam mewujudkan cita-cita di zaman sekarang. Bisa dibilang, kalau dulu anak bangsawan yang bisa sekolah, sekarang semua anak bisa sekolah tapi sayangnya yang berduitlah yang sanggup bercita-cita dan mewujudkannya. Yang tak berduit???Hmmm...jawab aja sendiri.

Sebagai penutup saya malah lebih senang dengan sebuah cita-cita yang saya baca dulu sewaktu SD pada bagian belakang sampul LKS milik ibu saya. Disana ada orang yang menuliskan cita-citanya begini "Menjadi orang yang berguna bagi Nusa dan Bangsa". Itu tuh baru bener, meskipun kita bisa meraih cita-cita kita kelak namun kita tak berguna bagi orang lain, itu sama saja kita tidak berhasil mewujudkan cita-cita kita. Mengobati orang tidak harus jadi dokter, menangkap penjahat tidak harus jadi aparat, mengajar tidak harus jadi guru, yang penting belajarlah untuk menjadi mengerti dan bisa, bukan untuk tau dan lupa.

Salam Semangat Selalu,
Nathanael H. R.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar