ESSAI
DEBAT MAHASISWA
“ASPIRASI UNTUK NEGERI”
|
Ada 2
faktor yang menyebabkan banyak guru di Indonesia tidak mampu memerankan
perannya sebagai seorang guru sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 14 Tahun
2005 tentang Guru dan Dosen.
|
Dicky Natanael H. R.
|
Pharmacy and Food Analyst Faculty of
Pharmacy Sumatera Utara University
|
10/3/2013
GURU YANG BUKAN GURU
Pendidikan merupakan suatu bentuk pembangunan nasional yang diarahkan pada peningkatan
kualitas sumber daya manusia. Kemajuan suatu bangsa digerakkan oleh sistem
pendidikan di negara tersebut. Semakin maju suatu bangsa atau negara, tentu
semakin tinggi kualitas sumber daya manusianya yang didukung dengan pendidikan
yang bermutu. Jadi kemajuan suatu bangsa juga ditentukan oleh sistem pendidikan
yang dilaksanakan di negara tersebut.
Berdasarkan UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dari pengertian ini
dapat disimpulkan bahwa pendidikan ialah suatu usaha yang dilakukan pemerintah
untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia guna menunjang kemajuan bangsa
dan negara. Dalam hal ini pemerintah menjalankan suatu upaya untuk mencapai
tujuan negara seperti tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yakni
mencerdaskan kehidupan bangsa.
Bicara mengenai pendidikan, tentu tak akan lepas dari eksistensi seorang
guru yang merupakan agen pembelajaran di bidang pendidikan. Sebagaimana
tercantum dalam UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kedudukan guru
sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru
sebagai agen pembelajaran memiliki fungsi meningkatkan mutu pendidikan
nasional. Guru yang merupakan agen utama pembelajaran memegang peranan penting
dalam menentukan kualitas peserta didik. Kualitas peserta didik memiliki
hubungan yang erat dengan kualitas sang guru, sehingga selain kemampuan pribadi
peserta didik, kemampuan seorang guru menjadi kunci tercapainya sistem
pendidikan nasional yang memadai.
Dalam UU Nomor 14 tahun 2005 dinyatakan bahwa esensi atau tugas seorang
guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dari tugas guru tersebut
dapat timbul permasalahan, bagaimana jika guru tidak bisa atau tidak mampu menjalankan
tugasnya sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang? Ini menjadi sebuah
permasalahan yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Ketika seorang guru
tidak mampu memerankan perannya sebagai guru, maka kualitas peserta didiknya
pun akan terganggu. Apabila seorang guru gagal dalam menjalankan tugas utamanya
sebagai seorang guru sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang, tentu guru
tersebut tidak dapat dikatakan sebagai seorang guru, meskipun secara notabene
ia adalah guru.
Ada dua faktor penyebab seorang guru tidak mampu melakukan perannya dengan
baik sebagaimana mestinya. Dua faktor tersebut ialah faktor eksternal dan
faktor internal. Faktor eksternal terjadi sebagai akibat pengaruh dari luar
diri guru tersebut, sedangkan faktor internal datang dari dalam diri guru yang
bersangkutan. Faktor eksternal yang mempengaruhi seorang guru gagal menjalankan
tugasnya ialah tidak adanya pembekalan dalam mengajarkan suatu materi dari
bidang ilmu tertentu kepada calon guru ketika menempuh pendidikan tinggi. Calon
guru bidang ilmu tertentu yang menempuh pendidikan tinggi keguruan hanya
dibekali cara mengajar peserta didik saja, tidak ada diberikan pembekalan cara
mengajarkan suatu materi dari bidang ilmu yang diajar. Sebagai contoh, seorang
mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika tidak dibekali bagaimana ia mengajarkan
materi Trigonometri dengan baik dan metode yang tepat agar siswanya dapat
memahami dan mengerti tentang materi tersebut kelak ketika mahasiswa itu terjun
dalam proes pembelajaran di sekolah. Kebanyakan mahasiswa keguruan hanya
diajarkan tentang pendalaman materi bidang ilmu yang diambil.
Pemerintah melalui Dirjen Dikti seharusnya melihat permasalahan ini dengan
peka. Cikal bakal terbentuknya seorang guru diawali dari pendidikan keguruan
yang ia peroleh di perguruan tinggi. Dalam masa inilah seorang calon guru
ditempa menjadi pribadi yang berkualitas, sehingga ketika ia menyelesaikan
pendidikan tingginya, ia siap terjun menjadi guru yang berkualitas pula
dibidangnya. Pembekalan cara mengajarkan materi dengan benar dan kreatif kepada
mahasiswa keguruan sangat penting dilaksanakan agar peran guru sebagai agen
pembelajaran dan fungsi serta tugasnya sebagai seorang guru kelak dapat
terlaksana. Jika hal ini dilakukan, maka tidak ada lagi guru yang tidak mampu
memerankan perannya sebagai agen utama pembelajaran dalam sistem pendidikan
nasional.
Hal lain yang termasuk ke dalam faktor eksternal adalah kurikulum.
Kebijakan penerapan kurikulum juga tidak kalah penting dan memiliki andil dalam
mempengaruhi guru sehingga tidak mampu menjalankan tugasnya. Banyak guru tidak
mampu mengikuti tuntutan kurikulum yang diberlakukan. Ditambah lagi dengan
permasalahan pergantian kurikulum yang keberhasilannya dalam mendongkrak mutu
pendidikan masih perlu dipertanyakan. Pergantian kurikulum tanpa ada alasan
yang rasional dan tidak melibatkan oknum guru maupun sekolah membuat para guru
menjalankan tugasnya semata-mata sebagai profesi belaka. Hal ini tentu sangat
bertentangan dengan prinsip profesionalitas seorang guru seperti tercantum
dalam UU Nomor 14 tahun 2005. Banyak di antara guru yang akhirnya meninggalkan
prinsip keprofesionalannya hanya karena lebih mengedepankan tuntuan kurikulum.
Tidak memiliki komitmen dan tanggung jawab dalam meningkatkan mutu pendidikan
menjadi ancaman baru karena desakan kurikulum yang selalu mengalami pergantian.
Sejak tahun 1945 hingga tahun 2013, pemerintah pusat melalui Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sudah 11 kali melakukan pergantian
kurikulum. Seperti kurikulum tahun 1947 yang disebut Kurikulum Rencana
Pelajaran Dirinci Dalam Rencana Pelajaran Terurai (17 tahun). Tahun 1964,
Kurikulum Rencana Pendidikan Dasar (4 tahun), tahun 1968 Kurikulum sekolah Dasar (6 tahun), tahun 1974
Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (1 tahun), tahun 1975 Kurikulum
Sekolah Dasar (9 tahun). Kemudian pada tahun 1984, Kurikulum Cara Belajar Siswa
Aktif (10 tahun), tahun 1994 disebut Kurikulum 1994 (3 tahun), tahun 1997
Kurikulum Revisi 1994 (7 tahun), tahun 2004 Kurikulum Berbasis Kompetensi (2
tahun), tahun 2006 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (7 tahun), dan yang
terakhir adalah tahun 2013 yang disebut Kurikulum Berkarakter 2013 yang mulai
Juli 2013 lalu dilaksanakan di beberapa sekolah pilihan.1
Pergantian kurikulum ini tepat dilakukan guna menunjang perkembangan dunia
pendidikan di Indonesia. Harapan dari dilakukannya pergantian kurikulum
tersebut adalah untuk menunjang hasil yang lebih baik sehingga tujuan
pendidikan dapat tercapai. Namun, apabila melihat lama pelaksanaan kurikulum
tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa pergantian kurikulum di Indonesia
tergesa-gesa tanpa adanya evaluasi mendalam yang dilakukan pemerintah. Sejak
tahun 1945 hingga 2013 ini, pemerintah belum pernah melakukan kajian mendalam
mengenai pelaksanaan kurikulum-kurikulum yang pernah berlaku sebelum
dibentuknya kurikulum baru. Sebagai contoh Kurikulum KTSP yang diberlakukan
pada tahun 2006 lalu sebagai pengganti Kurikulum KBK tahun 2004. Jika KTSP
terancam hanya berlaku 6 tahun, maka lebih tragis lagi KBK hanya berlaku 2
tahun saja.
Hal yang lebih memprihatinkan ialah meski sudah diberlakukan selama 6
tahun, ternyata KTSP belum sepenuhnya dapat dipahami dan dilaksanakan oleh
guru-guru di Indonesia. Ada banyak seminar dan workshop yang dilakukan di berbagai daerah guna menunjang
peningkatan kualitas guru dan pemahaman terhadap KTSP itu sendiri. Kegiatan
tersebut tentu menyedot anggaran yang besar. Namun, evaluasi terhadap
pelaksanaan kurikulum itu juga tidak pernah dilakukan oleh pemerintah. Tidak
ada evaluasi terhadap keberhasilan dan kegagalan kurikulum tersebut. Padahal,
evaluasi terhadap penerapan kurikulum lama sebelum diberlakukannya kurikulum
baru sangat penting sebagai panduan dalam penyusunan dan pelaksanaan kurikulum baru
nantinya.
1 Alfred Dama. 11 Kali Ganti Kurikulum Tanpa Evaluasi. 19
April 2013. http://kupang.tribunnews.com/2013/04/19/tujuh-desa-di-lembata-belum-diakui-kemendagri. Diakses pada 11 September 2013.
Dalam hal ini pemerintah Indonesia kurang bijaksana dalam memutuskan
penerapan kurikulum baru. Ketidakbijaksanaan itu dapat berpengaruh terhadap
kinerja guru dan mengganggu dunia pendidikan. Seolah
menjadi kebiasaan bagi pemerintah pemegang kuasa pembuat kebijakan untuk
mengubah suatu kebijakan tanpa disertai alasan dan evaluasi yang jelas. Seolah
hanya ingin dinilai selama menjabat, ia pernah membuat suatu kebijakan, meski
kebijakan yang dilakukan hanyalah mengubah sebuah huruf. Seharusnya pemerintah
lebih bijak dan
lebih teliti dalam membuat suatu kurikulum. Pengawasan dan evaluasi mendalam
terhadap pelaksanaan kurikulum perlu dilaksanakan. Jika memang berdasarkan
hasil evaluasi kurikulum lama tidak tepat diterapkan, barulah hendaknya dilakukan
pergantian kurikulum.
Sedangkan faktor internal penyebab guru tidak mempu menjalankan
fungsinya sebagai agen pembelajaran adalah tidak mampunya seorang guru
memisahkan antara kepentingan pribadi dan kewajibannya sebagaimana dalam
Undang-Undang. Kurangnya rasa tanggung jawab dan rendahnya kepedulian terhadap
tugasnya menjadikan guru tidak dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Ada
oknum guru yang tega meninggalkan tugas mengajarnya di kelas hanya karena ia
harus mengurus permasalahan dalam rumah tangganya. Adalagi oknum guru yang datang ke kelas hanya untuk
memberikan catatan kepada peserta didik, lalu ia pergi ke tempat lain, bahkan
ada yang duduk di kantor sambil berbincang-bincang atau melakukan kegiatan
lain. Jika hal
semacam ini terus terjadi, sudah pasti peserta didik sangat dirugikan. Mereka
datang ke sekolah dengan harapan mendapat pelajaran baru, dibimbing mengenai
suatu keterampilan, dididik menjadi pribadi yang kritis dalam berpikir, namun
yang mereka dapat hanyalah catatan yang bisa mereka salin di rumah tanpa harus
ke sekolah.
Pemerintah melalui Dinas Pendidikan kabupaten/ kota hendaknya melakukan
pengawasan yang lebih ketat dan sanksi yang lebih tegas lagi terhadap oknum
guru yang memiliki masalah seperti ini. Penundaan kenaikan pangkat, pembekuan
dana tunjangan, atau bahkan ancaman pencabutan SK PNS dapat digunakan sebagai
sanksi tegas kepada guru yang kerap mangkir dari tugasnya.
Tindakan evaluasi terhadap guru pun perlu diberlakukan secara berkala sebagai
bentuk pengawasan. Tindakan evaluasi yang dilakukan dapat berupa penyebaran
kuisioner kepada siswa yang diadakan setiap bulan atau tiga bulan sekali. Apabila pemerintah kurang tegas dan membiarkan hal semacam ini, maka akan semakin
banyak guru yang datang ke sekolah bukan untuk melaksanakan tugas, melainkan
hanya sebagai simbol ia seorang guru, tetapi pada kenyataannya ia hanya mengejar gaji dan
tunjangan.
Permasalahan lain yang juga datang dari diri guru itu ialah lemahnya daya
kreasi dan inovasi guru-guru di Indonesia dalam menyampaikan materi
pembelajaran. Berdasarkan Permendikbud Nomor 65 tahun 2013 tentang Standar
Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, alokasi waktu jam tatap muka pembelajaran
untuk SD 35 menit, SMP 40 menit, dan SMA/ SMK 45 menit. Dengan waktu tersebut, seorang guru
seharusnya mampu untuk menciptakan proses pembelajaran yang kreatif dan
inovatif. Kurikulum menuntut agar peserta didik mampu mengembangkan pola pikir
yang kreatif dan inovatif. Namun hal tersebut tentu tidak akan terwujud apabila
guru yang mengajar pun tidak mampu menciptakan metode pembelajaran kreatif dan
inovatif.
Kebanyakan guru di Indonesia masih menggunakan metode ceramah dalam proses
belajar-mengajar. Metode ini tentu kurang memberikan dampak dalam mewujudkan
peserta didik yang kreatif mengingat keadaan zaman yang sudah berkembang.
Padahal, dalam Permendikbud Nomor 65 tahun 2013, pendidikan yang diberikan
terhadap peserta didik harus dapat membuat peserta didik mengetahui, memahami,
menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta. Untuk mendorong dan
mewujudkan peserta didik dalam menghasilkan karya kreatif dan kontekstual
dengan keterampilan yang memadai perlu dilakukan pendekatan pembelajaran
berbasis pemecahan masalah (project based
learning). Pembelajaran semacam ini menuntut daya kreasi dan inovasi
seorang guru dalam penyampaian materi ajar kepada peserta didik. Media
pembelajaran dan metode ajar yang
digunakan sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses pembelajaran
ini.
Seharusnya pemerintah tanggap terhadap permasalahan ini. Pemberdayaan
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) perlu diaktifkan dan ditingkatkan kembali
guna membahas mengenai permasalahan lemahnya kreativitas guru. Pengenalan dan
pelatihan metode mengajar serta pembuatan media ajar sangat penting ditekankan
pada guru-guru di Indonesia. Hal ini menjadi poin utama dalam proses
pembelajaran di dunia pendidikan formal. Bagaimanapun juga guru adalah agen
utama pembelajaran di sekolah. Keberhasilan sebuah sistem pendidikan tergantung
pada guru yang menjalankan sistem tersebut. Apabila guru mampu mengemas
pembelajaran dengan baik, kreatif, dan inovatif tentu keberhasilan dalam
mewujudkan tujuan negara, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan
negara akan tercapai. Mustahil sebuah negara akan mampu menjadi negara yang
maju dan makmur tanpa adanya pendidikan yang berkualitas. Dan pendidikan yang
berkualitas ditentukan oleh guru yang berkualitas pula. Itulah sebabnya ia
disebut guru.
|
Selasa, 08 Oktober 2013
Guru Yang Bukan Guru
Jumat, 30 Agustus 2013
Menghindari Konflik dengan Sahabat Karena Pacar
Menghindari Konflik Dengan Sahabat Karena Pacar
Oleh Puteri Fatia | Yahoo She – Kam, 19 Jan 2012 19:37 WIB
Oleh Puteri Fatia | Yahoo She – Kam, 19 Jan 2012 19:37 WIB
Banyak yang berkata pacar bisa berganti tapi sahabat tak akan pergi. Kenyataannya, tak sedikit pula persahabatan yang bubar karena kehadiran pacar.
Sahabat dan kekasih memang sama-sama penting dalam hidup Anda. Namun dua bagian penting dalam hidup Anda ini seringkali tak sejalan, apalagi jika sang sahabat masih belum berpasangan. Perubahan sikap Anda setelah punya pacar atau sifat sang kekasih yang tak disukai sahabat bisa memicu konflik antara Anda dan sahabat.
Membagi Waktu...
Teman, keluarga, pacar, pekerjaan atau sekolah, semuanya membutuhkan perhatian Anda. Terkadang sulit membagi diri untuk sedemikian banyak kepentingan atau tuntutan. Keseimbangan merupakan hal yang penting.
Akhir pekan mungkin saja Anda sudah sepenuhnya milik pacar atau keluarga. Tapi jangan lupa Anda tetap menyisihkan waktu untuk memberi perhatian kepada sahabat. Jangan sampai Anda dicap hanya menghubungi kalau lagi butuh.
Jika memang sulit mencari waktu bertemu, tetap hubungi dia dan tanyakan kabarnya. Berkat kemajuan teknologi, Anda punya banyak kemudahan dalam hal ini. Telepon, pesan singkat, chatting, atau jejaring sosial bisa dimanfaatkan untuk tetap menjaga hubungan baik dengan sahabat. Jangan sampai ia merasa dilupakan atau ditinggalkan setelah Anda memiliki kekasih.
Topik yang Membosankan...
Jika Anda bertemu atau berbicara lewat telepon, tanyakan kabarnya dan perkembangan belakangan ini. Hindari terlalu banyak bercerita tentang pacar hingga membuatnya kesal. Jangan melulu membanggakan romantisnya si pacar, betapa perhatiannya dia, dan betapa Anda sangat mengaguminya. Sahabat Anda mengerti Anda sedang jatuh cinta, tapi terus mencekoki dia dengan pembicaraan tentang si pacar pasti lama-lama membuatnya muak.
Ketika pergi bersama, tidak perlu memamerkan kapan terakhir kali Anda dan pacar mengunjungi tempat tersebut dan mengaitkan hampir semua hal dengan si pacar. Lama-kelamaan sahabat Anda akan bosan dan malah menjauhi Anda. Jaga perasaan sang sahabat dan hargai dia sebagai teman bicara yang seimbang.
Melibatkan dalam Konflik...
Konflik antara Anda dan kekasih sebaiknya diselesaikan berdua saja. Tidak perlu melibatkan orang lain, apalagi sahabat. Tidak perlu meminta sahabat berbohong kepada pacar untuk menutupi kesalahan Anda. Tidak semua orang merasa nyaman jika harus menutupi kesalahan orang lain. Jangan membuat hubungan Anda dan sahabat menjadi tidak nyaman dengan melibatkannya dalam konflik. Jika kekasih mengetahui sahabat Anda berbohong, bukan tak mungkin sahabat Anda langsung masuk daftar hitam.
Prioritas Terakhir...
Sekali-sekali membatalkan janji dengan sahabat demi pacar mungkin bisa dimengerti. Namun bila terus-menerus menyisihkan sahabat karena pacar tentu bisa menjadi sumber konflik. Anda harus mengingat kembali hubungan baik Anda dengan sahabat. Dia yang selalu ada pada saat baik maupun pada saat terpuruk. Dia juga selalu menemani saat Anda sedang memiliki pacar atau sedang patah hati karena hubungan cinta yang kandas.
Hargailah kesetiaan sahabat dengan tidak menempatkannya di prioritas terakhir saat Anda sedang dimabuk asmara. Jangan lupakan hari ulang tahunnya, momen penting dalam hidupnya, dan tetap berkirim kabar untuk menjaga hubungan yang baik. Kekasih yang baik pastinya mengerti Anda membutuhkan sahabat untuk menjaga keseimbangan hidup.
Memaksakan Kehendak...
Jika sahabat tidak menyukai pasangan Anda, pasti ia punya alasan tertentu. Coba dengarkan pendapatkan dan berikan penjelasan jika memang ia salah mengerti. Jika setelah dipikir-pikir pendapat sahabat Anda ada benarnya coba terima dengan lapang dada. Anda memang sedang jatuh cinta dengan sang kekasih, tapi bisa jadi masukan dari sahabat bermanfaat untuk memperbaiki diri dan hubungan Anda.
Begitu juga ketika pergi bersama, jangan mengajak sahabat hanya untuk menjadi pelengkap. Jika Anda pergi bertiga, usahakan untuk berbagi fokus antara sahabat dan kekasih. Tentu akan sangat menyebalkan baginya jika hanya ikut sebagai pelengkap sementara Anda sibuk sendiri dengan sang kekasih.
Kamis, 29 Agustus 2013
Pemikiran Mengenai Sebuah PERSAHABATAN
Cobalah ingat kembali masa-masa ketika kamu masuk dalam sebuah sekolah yang baru sebagai siswa baru, baik itu SMP atau SMA. Bagaimanakah perasaanmu waktu itu? Gembira? Was-was? Kurang Senang? Mungkin dua perasaan yang disebutkan terakhir itu sangat umum ditemukan. Kita merasa was-was dan kurang senang karena kita memasuki suatu lingkungan yang baru. Apalagi jika teman satu sekolah kita dulu tidak ada yang sama dengan kita. Jika saja ada yang kita kenali, tentulah kita tidak akan terlalu was-was atau kesepian. Biasanya di awal-awal MOS (Masa Orientasi Siswa) kita mulai mengenal dan mendapat teman baru. Dari sinilah nantinya akan terbangun suatu hubungan akrab/ chemistry yang akan membentuk sebuah persahabatan.
1. Persahabatan Sejati
Banyak orang merasa bahwa ia tidak bisa mendapat teman. Mereka merasa ada yang tidak beres dengan dirinya sehingga tidak ada orang yang mau menjadi temannya. Mungkin tubuhnya terlalu pendek, atau hidungnya terlalu pesek, atau matanya terlalu sipit, atau bahkan kulitnya terlalu hitam, dan lain sebagainya. Oleh karena itu mereka berusaha sedapat mungkin mengubah ciri-ciri fisiknya agar lebih dapat diterima orang lain. Ada lagi yang berusaha "membeli" teman-temannya dengan menghamburkan uang, mengikuti semua keinginan temannya, memuji-muji, memberi sanjungan, dan dengan berbagai cara lainnya. Tetapi benarkah sikap yang demikian? Jawabnya ialah salah. Hubungan persahabatan yang baik seharusnya ditandai dengan kepedulian yang tinggi.
Ada pepatah Inggris mengatakan: "a friend in need is a friend indeed". Artinya, teman dalam kesusahan adalah teman yang sejati. Ada pula perkataan bijak demikian: "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran". Pepatah dan perkataan bijak tersebut banyak mengandung kebenaran. Pada saat-saat senang, kita tidak akan kekurangan teman. Mereka selalu ada di sekitar kita untuk ikut menikmati segala kesenangan kita. Namun apabila kesusahan menimpa kita, siapakah yang mau tinggal menemani kita? Biasanya orang segera menjauhi kita karena takut akan dimintai tolong. Nah, itulah sebabnya dikatakan "sahabat sejati adalah sahabat di dalam kesusahan". Persahabatan yang sejati mengenal kasih yang tidak melihat dari sisi keuntungan, materi, atau finansial.
2. Solidaritas yang Keliru
Hubungan persahabatan yang baik adalah hubungan yang memungkinkan semua yang terlibat mengatasi persoalan dirinya, mengembangkan kepribadian dan bakatnya secara positif sehingga berguna bagi banyak orang. Namun masalahnya, persahabatan bukanlah sesuatu yang mudah.
Seorang laki-laki menulis demikian:
"Sejak kecil saya suka diejek bahwa mulut saya bau, mungkin karena dulu saya malas sikat gigi. Oleh sebab itu, dari kecil sampai SMP saya minder untuk berbicara dengan orang lain. Barulah pada akhir SMP, setelah menyadari pentingnya arti pergaulan, saya mulai berani bicara." (M.A.W. Brouwer, Pergaulan, 1981, hlm. 82).
Seorang laki-laki lainnya menulis:
"Pernah suatu kali aku menolong seorang sahabatku dengan segala apa yang dapat kulakukan, tapi apa mau dikata? Suatu kali setelah ia menemukan teman baru, dia lupa dan tinggalkan aku sendiri". (ibid., hlm. 76)
Kita dapat pula menemukan teman yang nyata-nyata merugikan kita. Misalnya dia suka menjerumuskan kita ke jalan yang salah. Hal seperti itu banyak sekali kita temukan. Mungkin Anda sendiri pernah dikecam habis-habisan dan dimusuhi oleh teman-teman sekelompokmu karena kamu tidak mau melakukan sesuatu, misal merokok, membolos, menonton film BF, melakukan tindak kriminal kecil, bahkan sampai besar. Atau mungkin kamu sendiri pernah melakukan pemaksaan tersebut kepada temanmu? Tekanan seperti itu biasanya sangat kuat sehingga jarang seorang remaja mengatakan tidak, seringkali anak laki-laki dikatakan sebagai pengecut, banci, pecundang, dan lain-lain oleh temannya karena ia tidak mau melakukan pola pergaulan yang buruk. Sebutan tersebut memang menyakitkan, sehingga banyak orang menyerah demi terhindar dari sebutan-sebutan tersebut. Hal-hal seperti inilah yang dikatakan sebagai solidaritas yang keliru.
3. Batas-Batas Persahabatan
Persahabatan yang baik tentunya mengenal norma-norma dan batasan. Untuk menjadi sahabat yang baik kita perlu mengingat bahwa teman kita/ atau sahabat kita itu bukan objek. Dia adalah subjek yang mempunyai kehendak yang bebas. Seorang filsuf bernama Martin Buber dalam sebuah bukunya menggambarkan dua jenis hubungan, yakni antara "Aku dan Benda" serta "Aku dan Engkau". Hubungan dengan seorang sahabat tidak boleh diwujudkan dengan pola "Aku dan Benda", melainkan dalam pola "Aku dan Engkau". Artinya, engkau mempunyai kebebasan penuh untuk bersikap dan mengambil tindakan sendiri sesuai dengan pikiranmu. Meski demikian, sebagai seorang sahabat yang baik tentu kita pun harus bisa memberikan petunjuk dan peringatan apabila teman/ sahabat kita menempuh jalan yang salah.
Adakalanya kita mengharapkan balasan atas kebaikan yang kita lakukan kepada sahabat kita. Itu adalah hal wajar dan selayaknya terjadi dalam sebuah hubungan persahabatn. Ada sifat timbal-balik atau berbalasan dalam suatu hubungan persahabatan yang baik. Namun, persahabatan yang baik janganlah melulu didasarkan pada hubungan timbal-balik itu. Artinya, janganlah kita melakukan sesuatu karena mempunyai harapan akan balasan terhadap kebaikan kita. Sebaliknya, pada diri teman/ sahabat yang mendapat bantuan, selayaknya timbul inisiatif untuk membalas kebaikan yang telah diterimanya. Ungkapan balasan tidak seterusnya berupa materi, namun ucapan terimakasih adalah ungkapan balasan yang tidak ternilai harganya. Jadi, jangan Anda lupa untuk berterimakasih kepada sahabat Anda sebagai tanda syukur Anda kepada sahabat.
Selain itu, hubungan antara sahabat membutuhkan keterbukaan. Dengan keterbukaan, kita dapat mengungkapkan perasaan kepada sahabat kita, sehingga kita pun dapat berbagi perasaan suka-duka kepada sahabat kita tersebut. Namun, kita harus berhati-hati, karena keterbukaan mengandung risiko yang tinggi. John Powell, seorang anggota ordo Jesuit, pernah menulis buku " Why I am Afraid to Tell You Who am I". Dalam buku itu ia berkata: "Kalau aku membuka diriku, maka aku menjadi rentan. Aku berharap engkau pun menghargai kerentananku, karena hanya itulah yang aku miliki". Artinya, seorang sahabat yang baik harus dapat menjaga hubungan persahabatannya dengan menjaga rahasia seorang sahabat sesuai dengan yang diinginkannya. Tetapi, kenyataannya hal ini seringkali tidak terjadi. Tidak jarang kita mendengar cerita yang dimulai "ini rahasia ya, jadi jangan cerita-cerita lagi kepada orang lain". Namun yang terjadi ialah dengan segera cerita itu beredar kemana-mana, dan sesegera itu pula semua orang mengetahui apa yang tadinya rahasia.
Persahabatan yang baik harus dijauhkan dari gosip-gosip, cerita-cerita yang belum pasti kebenarannya, yang dapat menghilangkan hal yang paling inti dan pokok dalam suatu hubungan persahabatan, yakni rasa percaya. Hal lain yang juga penting dalam mencari sahabat ialah sifat-sifat apakah yang kita harapkan dari sahabat itu? Apakah kita mengharapkan diri kita ditulari oleh sifat-sifat yang baik? Atau justru sebaliknya? Membiarkan kita ditulari oleh sifat-sifat buruk dari pergaulan yang salah? Untuk mencari sahabat, Anda bisa melihat/ menurut pada kata-kata bijak berikut:
"Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang".
"Janganlah berteman dengan orang yang lekas gusar dan janganlah bergaul pada seorang pemarah, namun berteman akrablah dengan si tukang senyum".
M.A.W. Brouwer menulis demikian:
"Jumlah orang yang gagal, tersesat, atau binasa karena salah memilih teman cukup besar...Bergaul dengan anak-anak drop out yang kerjanya hanya ngebut, main disko, bilyar, minum drugs atau alkohol, bukanlah pergaulan yang bermanfaat. Bergaul dengan teman yang baik, yang berbeda agama, atau berbeda lingkungan kebudayaan akan memperluas pandangan hidup dan memberikan pengalaman yang berharga."
Jelas kiranya bahwa kita harus berhati-hati dalam memilih sahabat. Carilah dan temukan sahabat yang sejati. Di pihak lain, janganlah kita bersikap fanatik, hanya mau bersahabat dengan teman dari suku, agama, atau kelompok ekonomi tertentu. Ada banyak pengalaman baik yang dapat kita petik lewat persahabatan dengan orang-orang yang berbeda suku, agama, ataupun kelas ekonominya dengan kita. Semua itu bahkan dapat menjadi bekal dalam kehidupan kita kelak di tengah masyarakat. Jadi, mulai saat ini hargai sahabat Anda dengan apa yang Anda dapat lakukan.
Terimakasih. Tuhan memberkati.
by: Natanael
adapted from: Suluh Siswa with changed
Seorang laki-laki lainnya menulis:
"Pernah suatu kali aku menolong seorang sahabatku dengan segala apa yang dapat kulakukan, tapi apa mau dikata? Suatu kali setelah ia menemukan teman baru, dia lupa dan tinggalkan aku sendiri". (ibid., hlm. 76)
Kita dapat pula menemukan teman yang nyata-nyata merugikan kita. Misalnya dia suka menjerumuskan kita ke jalan yang salah. Hal seperti itu banyak sekali kita temukan. Mungkin Anda sendiri pernah dikecam habis-habisan dan dimusuhi oleh teman-teman sekelompokmu karena kamu tidak mau melakukan sesuatu, misal merokok, membolos, menonton film BF, melakukan tindak kriminal kecil, bahkan sampai besar. Atau mungkin kamu sendiri pernah melakukan pemaksaan tersebut kepada temanmu? Tekanan seperti itu biasanya sangat kuat sehingga jarang seorang remaja mengatakan tidak, seringkali anak laki-laki dikatakan sebagai pengecut, banci, pecundang, dan lain-lain oleh temannya karena ia tidak mau melakukan pola pergaulan yang buruk. Sebutan tersebut memang menyakitkan, sehingga banyak orang menyerah demi terhindar dari sebutan-sebutan tersebut. Hal-hal seperti inilah yang dikatakan sebagai solidaritas yang keliru.
3. Batas-Batas Persahabatan
Persahabatan yang baik tentunya mengenal norma-norma dan batasan. Untuk menjadi sahabat yang baik kita perlu mengingat bahwa teman kita/ atau sahabat kita itu bukan objek. Dia adalah subjek yang mempunyai kehendak yang bebas. Seorang filsuf bernama Martin Buber dalam sebuah bukunya menggambarkan dua jenis hubungan, yakni antara "Aku dan Benda" serta "Aku dan Engkau". Hubungan dengan seorang sahabat tidak boleh diwujudkan dengan pola "Aku dan Benda", melainkan dalam pola "Aku dan Engkau". Artinya, engkau mempunyai kebebasan penuh untuk bersikap dan mengambil tindakan sendiri sesuai dengan pikiranmu. Meski demikian, sebagai seorang sahabat yang baik tentu kita pun harus bisa memberikan petunjuk dan peringatan apabila teman/ sahabat kita menempuh jalan yang salah.
Adakalanya kita mengharapkan balasan atas kebaikan yang kita lakukan kepada sahabat kita. Itu adalah hal wajar dan selayaknya terjadi dalam sebuah hubungan persahabatn. Ada sifat timbal-balik atau berbalasan dalam suatu hubungan persahabatan yang baik. Namun, persahabatan yang baik janganlah melulu didasarkan pada hubungan timbal-balik itu. Artinya, janganlah kita melakukan sesuatu karena mempunyai harapan akan balasan terhadap kebaikan kita. Sebaliknya, pada diri teman/ sahabat yang mendapat bantuan, selayaknya timbul inisiatif untuk membalas kebaikan yang telah diterimanya. Ungkapan balasan tidak seterusnya berupa materi, namun ucapan terimakasih adalah ungkapan balasan yang tidak ternilai harganya. Jadi, jangan Anda lupa untuk berterimakasih kepada sahabat Anda sebagai tanda syukur Anda kepada sahabat.
Selain itu, hubungan antara sahabat membutuhkan keterbukaan. Dengan keterbukaan, kita dapat mengungkapkan perasaan kepada sahabat kita, sehingga kita pun dapat berbagi perasaan suka-duka kepada sahabat kita tersebut. Namun, kita harus berhati-hati, karena keterbukaan mengandung risiko yang tinggi. John Powell, seorang anggota ordo Jesuit, pernah menulis buku " Why I am Afraid to Tell You Who am I". Dalam buku itu ia berkata: "Kalau aku membuka diriku, maka aku menjadi rentan. Aku berharap engkau pun menghargai kerentananku, karena hanya itulah yang aku miliki". Artinya, seorang sahabat yang baik harus dapat menjaga hubungan persahabatannya dengan menjaga rahasia seorang sahabat sesuai dengan yang diinginkannya. Tetapi, kenyataannya hal ini seringkali tidak terjadi. Tidak jarang kita mendengar cerita yang dimulai "ini rahasia ya, jadi jangan cerita-cerita lagi kepada orang lain". Namun yang terjadi ialah dengan segera cerita itu beredar kemana-mana, dan sesegera itu pula semua orang mengetahui apa yang tadinya rahasia.
Persahabatan yang baik harus dijauhkan dari gosip-gosip, cerita-cerita yang belum pasti kebenarannya, yang dapat menghilangkan hal yang paling inti dan pokok dalam suatu hubungan persahabatan, yakni rasa percaya. Hal lain yang juga penting dalam mencari sahabat ialah sifat-sifat apakah yang kita harapkan dari sahabat itu? Apakah kita mengharapkan diri kita ditulari oleh sifat-sifat yang baik? Atau justru sebaliknya? Membiarkan kita ditulari oleh sifat-sifat buruk dari pergaulan yang salah? Untuk mencari sahabat, Anda bisa melihat/ menurut pada kata-kata bijak berikut:
"Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang".
"Janganlah berteman dengan orang yang lekas gusar dan janganlah bergaul pada seorang pemarah, namun berteman akrablah dengan si tukang senyum".
M.A.W. Brouwer menulis demikian:
"Jumlah orang yang gagal, tersesat, atau binasa karena salah memilih teman cukup besar...Bergaul dengan anak-anak drop out yang kerjanya hanya ngebut, main disko, bilyar, minum drugs atau alkohol, bukanlah pergaulan yang bermanfaat. Bergaul dengan teman yang baik, yang berbeda agama, atau berbeda lingkungan kebudayaan akan memperluas pandangan hidup dan memberikan pengalaman yang berharga."
Jelas kiranya bahwa kita harus berhati-hati dalam memilih sahabat. Carilah dan temukan sahabat yang sejati. Di pihak lain, janganlah kita bersikap fanatik, hanya mau bersahabat dengan teman dari suku, agama, atau kelompok ekonomi tertentu. Ada banyak pengalaman baik yang dapat kita petik lewat persahabatan dengan orang-orang yang berbeda suku, agama, ataupun kelas ekonominya dengan kita. Semua itu bahkan dapat menjadi bekal dalam kehidupan kita kelak di tengah masyarakat. Jadi, mulai saat ini hargai sahabat Anda dengan apa yang Anda dapat lakukan.
Terimakasih. Tuhan memberkati.
by: Natanael
adapted from: Suluh Siswa with changed
Selasa, 27 Agustus 2013
Bila Pacar Cemburui Sahabat
Bila Pacar Cemburui Sahabat
Oleh Gelar Pradipta Utama | Yahoo She – Sen, 25 Jun 2012 16:28 WIB
"Kenapa dia sering banget sih BBM-an sama kamu? Coba, lihat ini, kemarin sore kan kamu nggak balas BBM aku, tapi
ternyata kamu BBM-an sama dia. Kamu lebih pilih dia daripada aku?"
Percintaan dan persahabatan berada di dua dunia yang berbeda. Mereka saling berhubungan, bergantung, dan membutuhkan. Tapi tidak seharusnya saling mengganggu, menyakiti, dan bahkan menghancurkan. Tapi teori ini kadangkala tidak bisa begitu saja berlaku di dunia nyata. Garis pembatas dua dunia ini begitu tipis, hingga (kadang) tampak seperti tidak ada. Atau, mungkin ada, tapi dianggap tak ada — akibat api cemburu yang berlebih.
Sebenarnya, percakapan di atas tidak perlu terjadi. Percakapan yang muncul sebagai reaksi dari pertanyaan di atas, juga tidak perlu terjadi. Jika dan hanya jika, kamu dan dia dan sahabatmu tahu porsi dan peran masing-masing.
Begini kondisinya, kamu sudah bersahabat sejak SMA dengan laki-laki ini. Kamu dan dia sudah sangat dekat sebagai teman. Sedangkan kamu, baru saja menjalin hubungan cinta dengan laki-laki baru. Bagaimana kamu akan menjelaskan pada pacarmu tentang sahabatmu?
Hal apa yang akan kamu katakan agar ia yakin, bahwa sahabatmu bukanlah ancaman hubungan kalian?
Begini caranya. Katakan padanya posisi kamu, dan sahabat kamu, sejak awal jadian. Jangan biarkan dia yang lebih dulu menemukan hubungan spesial antara kamu dan sahabatmu. Katakan sejak awal, "Sayang, dia sahabat aku. Dia bukan saingan kamu, oke?" Katakan padanya bahwa dia, dan sahabatmu, bukanlah dua pilihan yang harus dipilih salah satu. Ini bukan ujian akhir, dimana kamu harus memilih hanya satu jawaban untuk lulus, atau mengulang kelas di semester depan. Kamu sayang dia. Kamu senang berbagi cerita sepulang kamu bekerja. Dia adalah orang terakhir dan pertama yang kamu sapa tiap harinya. Kamu menghabiskan Sabtu malam bersamanya.
Tapi, kamu juga membutuhkan sahabatmu. Untuk bergosip tentang teman kuliahmu yang lebih dulu menikah, untuk saling mendukung meraih mimpi yang kamu katakan padanya waktu SMA, untuk mencari jalan keluar saat kamu tak lagi tahu bagaimana cara melunakkan hatimu saat dia marah, dan mungkin, untuk menemanimu saat dia menyakitimu, nanti.
Katakan padanya kamu tahu batas. Kamu tahu sejak kamu memutuskan untuk menerimanya menjadi pacarmu, kamu harus menjaga perasaan dan juga hubungan kalian. Kamu akan selalu menghormati posisinya sebagai pacar, dan posisinya sebagai sahabatmu. Seperti minyak dan air, kamu tidak akan pernah mencampuradukkan dua dunia ini jadi satu.
Katakan padanya, sahabatmu mendukung kalian. Sahabatmu adalah orang pertama yang mengatakan padamu untuk menerimanya sebagai pacarmu. Sahabatmu, adalah orang yang selalu meyakinkan kamu kalau pacarmu sangat menyayangimu, dan mengatakan padamu untuk meninggalkan mantanmu, demi dia. Sahabatmu, ingin kamu, dan dia, bahagia.
Terakhir, katakan padanya untuk percaya padamu. Hubungan ini, akan menghadapi begitu banyak rintangan, dan cobaan di depannya. Beberapa di antaranya, lebih besar, sulit, dan rumit dari ini. Justru sebenarnya, kamu-pacarmu-dan-sahabatmu bukanlah sebuah masalah sejak awal. Minta ia untuk memberikan kepercayaan penuh pada dirimu, terkait dengan hubunganmu dengan sang sahabat. Jika kamu terbukti melanggar janji, katakan padanya, ia bisa mengakhiri hubungan ini dengan segera.
Namun, sebelum kamu katakan beberapa hal di atas pada pacarmu, cobalah jawab pertanyaan ini: Benarkah kamu tahu batas? Yakinkah kamu, hubungan kamu dan dia hanya sebatas sahabat?
Meski pacar dan sahabat bukanlah sesuatu yang bisa dipilih, bagaimana jika suatu saat kamu ada di posisi yang terpaksa memilih satu di antara mereka? Siapa yang kamu pilih, pacar atau sahabat?
Bicara soal prinsip, pasti tiap insan di dunia ini punya prinsip ya dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Tapi pernahkah kita sadari bahwa, apakah prinsip kita itu bermanfaat bagi orang lain??? Atau malah hanya bermanfaat dan bisa diterapkan pada diri kita sendiri saja??? Nah, itu dia yang salah. Namanya saja sudah prinsip, ya mesti bisa lah digunakan orang lain. Selayaknya prinsip dari alat-alat yang ada di sekitar kita yang tercipta dengan 1 prinsip hingga ia dapat kita gunakan.
Saya pernah mendengar pernyataan dari seseorang yang mengatakan begini, "Aku tu hidup punya prinsip, dan terkadang aku harus gunain prinsip itu meski orang lain tidak setuju atau tidak nerima". Nah loe, gimana nih?? Menurut Anda apa ini nih yang namanya prinsip?? Saya rasa enggak ya, itu lebih menunjukkan keegoisan malah. Karena menurut saya ketika kita memiliki sebuah prinsip tetapi prinsip itu sulit diterima orang lain, maka disitulah kita sedang mengedepankan ego kita. Itu namanya bukan prinsip tapi malah menindas.
Jadi, kalau memang kita punya prinsip, ya upayakanlah agar prinsip itu dapat diterima oleh orang lain. Karena ketika prinsip kita bisa diterima oleh orang lain, itu menandakan bahwa kita menjadi berkat bagi orang lain melalui apa yang menjadi buah pemikiran kita dalam hidup.
Saya pernah mendengar pernyataan dari seseorang yang mengatakan begini, "Aku tu hidup punya prinsip, dan terkadang aku harus gunain prinsip itu meski orang lain tidak setuju atau tidak nerima". Nah loe, gimana nih?? Menurut Anda apa ini nih yang namanya prinsip?? Saya rasa enggak ya, itu lebih menunjukkan keegoisan malah. Karena menurut saya ketika kita memiliki sebuah prinsip tetapi prinsip itu sulit diterima orang lain, maka disitulah kita sedang mengedepankan ego kita. Itu namanya bukan prinsip tapi malah menindas.
Jadi, kalau memang kita punya prinsip, ya upayakanlah agar prinsip itu dapat diterima oleh orang lain. Karena ketika prinsip kita bisa diterima oleh orang lain, itu menandakan bahwa kita menjadi berkat bagi orang lain melalui apa yang menjadi buah pemikiran kita dalam hidup.
Langganan:
Postingan (Atom)



