Rabu, 08 Januari 2014

Keranjang Arang

Cerita singkat ini adalah tentang kehidupan rohani seorang Kakek dan cucunya. Pada suatu ketika, sang cucu mengunjungi Kakeknya. Rumah sang Kakek kebetulan dekat dengan sebuah sungai. Saat itu sang Kakek bertanya pada cucunya.
"Cucuku, bagaimana kondisi rohanimu? Apakah hubungan pribadimu dengan Tuhan baik-baik saja?" tanya sang Kakek.
Lalu sang cucu pun menjawab, "Baik Kek...".
Kemudian si Kakek bertanya kembali...
"Oh ya cucuku, sudah pernahkah kau membaca Alkitab ini dari kitab yang paling awal hingga yang terakhir?".
Si cucu menjawab, "Belum Kek, belum sekali pun...".

Tergerak oleh perasaan penasaran, sang Kakek kembali bertanya...
"Kau orang Kristen bukan???"
"Ya iya lah Kek, maksud Kakek apa sih, kok kayak meragukan aku gitu?? jawab cucunya.
"Lalu kenapa kau belum pernah membacanya sampai akhir?" tanya sang Kakek kembali.
Sang cucu pun mengungkapkan alasannya...
"Aku tidak tahu Kek, hanya saja aku tidak merasakan ada atau terjadi sesuatu yang berbeda dengan diriku ketika aku membaca Alkitab. Semua serasa mengalir begitu saja, seolah aku hanya membaca, hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidak membacanya dan aku lebih memilih untuk menjadi orang baik saja. Itu sudah cukup memenuhi tujuan pembacaan Alkitab kan Kek, bahwa kita dituntut untuk menjadi orang yang baik. Sia-sia saja kan Kek kalau aku harus membacanya setiap hari sementara perintahnya sama saja yaitu supaya kita hidup baik, lebih baik aku menjadi orang yang baik saja langsung tanpa harus membuang-buang waktu membacanya, toh perintahnya sudah jelas kan, terang sang cucu.

Mendengar penjelasan sang cucu, si Kakek merasa sedih dan ia pergi ke dapur. Dari dapur ia mengambil sebuah keranjang arang yang sangat kotor karena bekas arang menempel di sela-sela keranjang itu. Lalu si Kakek berkata kepada cucunya...
"Pergilah ke sungai dekat rumah ini, dan ambilkanlah air dengan keranjang ini!"
Mendengar perintah sang Kakek yang konyol, si cucu merasa keheranan dan bingung. Ia berpikir bahwa Kakeknya sudah gila menyuruhnya mengambil air dengan keranjang arang. Ia merasa bahwa Kakeknya menyuruhnya mengerjakan sesuatu yang sia-sia. Maka ia pun protes.
"Kek, ini keranjang arang, bukan baskom atau ember, bagaimana mungkin aku dapat mengambil air dengan keranjang ini. Ini pekerjaan yang sia-sia kek", ujar sang cucu.
Sang Kakek hanya tersenyum dan berkata, "Pergilah! Lakukan saja apa yang Kakek perintahkan padamu nak".
Meski dalam hati si cucu merasa itu adalah pekerjaan yang sia-sia, namun karena ia menghargai Kakeknya, ia pun pergi ke sungai untuk mengambil air dengan keranjang arang dari Kakeknya tadi.

Sesampainya di sungai, si cucu terus mencoba berulang-ulang untuk mengambil air dengan keranjang itu. Puluhan kali bahkan hingga ratusan kali ia mencoba, namun sesendok air pun tidak dapat ia ambil dengan keranjang itu. Akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali kepada Kakeknya.

Setibanya di rumah Kakeknya, ia menjelaskan semua daya dan upayanya untuk mengambil air dengan keranjang arang itu di sungai sebagaimana diperintahkan Kakeknya kepadanya. Namun alhasil tidak sesendok air pun ia bawa kepada Kakeknya. Lalu ia pun berkata kepada Kakeknya...
"Kakek, aku sudah berusaha keras untuk mengambil air dengan keranjang itu, tapi semua usahaku sia-sia, tak sesendok air pun kudapat, aku justru kelelahan Kek", kata si cucu.
Mendengar itu sang Kakek hanya tersenyum dan ia bertanya pada cucunya...
"Lalu apa yang kau dapati di keranjang itu cucuku?" tanya sang Kakek.
"Tak ada apapun juga yang kudapat selain keranjang ini basah dan tenagaku pun terbuang percuma Kek", jawab si cucu.
Sang Kakek tertawa kecil mendengar jawaban cucunya.
"Kenapa Kakek tertawa? Kakek hanya mengerjaiku ya?", ujar cucunya cemberut.
Lalu si Kakek berkata...
"Disitulah letak kesalahanmu cucuku, tidakkah kau melihat dan memperhatikan sesuatu yang berbeda terjadi dengan keranjang arang itu dari sebelum kau membawanya ke sungai?", tanya sang Kakek.
Sejenak sang cucu memperhatikan keranjang arang yang masih dipegangnya dan ia pun menemukan ada sesuatu yang berbeda terjadi pada keranjang arang itu. Lalu si cucu pun berkata...
"Ya Kek, aku melihat keranjang arang ini jauh lebih bersih daripada saat Kakek memberikannya kepadaku tadi".

Dengan tersenyum sang Kakek berkata...
"Begitulah kita, seperti keranjang arang yang kotor itu, kita selalu berbuat dosa dalam hidup ini meski kita merasa sudah menjadi pribadi yang baik di mata Tuhan dan kita merasa sudah menjadi seperti yang Tuhan harapkan. Namun kenyataannya tidak, kita tetap masih berdosa di tengah-tengah kebaikan yang kita lakukan, karena ukuran kita bukan ukuran Tuhan, cucuku. Tapi begitulah Kasih Tuhan itu kepada kita yang berdosa ini, Ia selalu mengampuni dan menyucikan kita lewat pengampunan-Nya yang selalu mengalir seperti aliran air sungai. Terkadang kita merasa apa yang kita kerjakan sia-sia dan percuma, namun tahukah kau cucuku bahwa Tuhan punya berbagai cara untuk membuat kita dekat pada-Nya, untuk membuat kita merasakan kasih dan kerunia-Nya. Oleh karena itu, jangan pernah merasa bahwa membaca Alkitab itu adalah sesuatu yang sia-sia, meski kau tak langsung merasakan dampak dari apa yang kau baca, karena Tuhan itu bekerja tanpa kita tahu bagaimana cara Ia menyatakan kehendak-Nya pada kita. Teruslah membaca Alkitab, maka kau akan bersih layaknya keranjang arang tadi", ungkap sang Kakek.

Salam Semangat Selalu
Nathanael H. R.

Mewujudkan Cita-Cita???Masih Bisa kah???

Waktu kalian kecil pasti pernah ditanyai tentang cita-cita. Biasanya sih di kisaran umur 2-5 tahun tu pertanyaan "Kalau udah gede mau jadi apa??" kita dengar dari setiap saudara atau sanak famili yang bertemu dengan kita. Atau pertanyaan Bapak/ Ibu Guru SD "Apa cita-citamu??". Nah saat itu kita masih dengan semangat yang menggebu-gebu, bergelora, dan membara untuk menjawab "Mau jadi Dokter, Polisi, Tentara, Guru, Pilot, dan lain sebagainya, yang jelas pasti punya cita-cita. Kalau ada teman kita yang tidak tau ketika ditanya cita-cita, maka kita akan tertawa dan mengejeknya karena kita merasa orang yang tak bercita-cita berarti bodoh. Waktu itu kita juga merasa sangat yakin bahwa kita akan menggapai cita-cita tersebut dengan mudah seolah jalan menuju sebuah cita-cita itu bisa ditempuh dengan sepeda motor atau mungkin pesawat jet.

Sampai masa SMP kita masih punya harapan yang besar untuk mewujudkan yang namanya cita-cita itu tadi. Ketika mengisi biodata dan ada daftar isian cita-cita, kita masih sangat semangat untuk mengisinya dengan harapan kita kelak menjadi seperti apa yang kita tuliskan. Namun mungkin banyak yang sudah mulai sedikit menurunkan standar cita-citanya. Mungkin yang semasa SD bercita-cita ingin menjadi Dokter akan menurunkan niatnya menjadi seorang Perawat atau Bidan. Kenapa?? Yah alasannya sih mungkin karena pengaruh masa pubertas. Mungkin banyak di antara kita yang sudah mulai memiliki perasaan untuk menyukai lawan jenis dan berpikiran untuk menjalin hubungan pacaran. Ini menyebabkan kebanyakan kita memiliki masalah dalam proses belajar sehingga mengikis persentasi pencapaian cita-citanya. Hmmm....susah deh..

Nah, keadaan dan kondisi cita-cita yang paling kritis terjadi pada masa-masa SMA dimana hampir seluruh siswa SMA terjangkit syndrome "Hari gini nggak pacaran???". Di masa ini nih rata-rata siswa SMA kalau ditanya cita-cita jawabnya "Tau ah, gelap...liat ntar aja jadinya apa." Yang masa SMP dulu mau jadi Dokter drastis menurunkan niatnya, atau mending menurunkan, ini malah meng-urungkan niatnya sama sekali untuk tidak mewujudkan cita-citanya dan memilih menikah. Alasannya sih toh ntar terakhirnya bakal nikah juga, ngapain nunggu lama-lama, buang umur aja. Atau ada yang justru lebih memilih untuk bekerja dan menghasilkan uang.

Lantas gimana tu Cita-Cita waktu kecil??? Gak terwujud???

Nah, kalau menurut saya nih ya...bukan nggak bisa sih diwujudkan. Semua itu tergantung dari diri si pencita-cita nya sendiri. Kalau memang ia memiliki keinginan yang kuat untuk mewujudkan cita-cita nya, pasti ia akan giat meraihnya. Tapi menurut saya juga nih ya, zaman sekarang mah sulit mewujudkan cita-cita. Banyak faktor yang mempengaruhi. Contoh kecilnya aja, gua dulu waktu ditanya udah gede mau jadi apa? Gua jawabnya mau jadi polisi biar punya tembak buat nembak orang jahat. Nah kenyataannya sekarang?? Mau jadi polisi bayar ratusan juta euy. Trus nih...pas pada nyoba masuk kuliah. Mau jadi dokter nih ceritanya, tes deh SNMPTN, eh kagak lulus, terakhirnya??? Jadi Guru, Insinyur pertanian, dan lain-lain. Malah menyimpang dari yang dicita-citakan toh??? Itu sih hanya secuil permasalahan terkait pencapaian cita-cita, masih banyak lagi masalah-masalah lain dalam mewujudkan cita-cita di zaman sekarang. Bisa dibilang, kalau dulu anak bangsawan yang bisa sekolah, sekarang semua anak bisa sekolah tapi sayangnya yang berduitlah yang sanggup bercita-cita dan mewujudkannya. Yang tak berduit???Hmmm...jawab aja sendiri.

Sebagai penutup saya malah lebih senang dengan sebuah cita-cita yang saya baca dulu sewaktu SD pada bagian belakang sampul LKS milik ibu saya. Disana ada orang yang menuliskan cita-citanya begini "Menjadi orang yang berguna bagi Nusa dan Bangsa". Itu tuh baru bener, meskipun kita bisa meraih cita-cita kita kelak namun kita tak berguna bagi orang lain, itu sama saja kita tidak berhasil mewujudkan cita-cita kita. Mengobati orang tidak harus jadi dokter, menangkap penjahat tidak harus jadi aparat, mengajar tidak harus jadi guru, yang penting belajarlah untuk menjadi mengerti dan bisa, bukan untuk tau dan lupa.

Salam Semangat Selalu,
Nathanael H. R.

Selasa, 08 Oktober 2013

Guru Yang Bukan Guru



ESSAI

DEBAT MAHASISWA
“ASPIRASI UNTUK NEGERI”




“GURU YANG BUKAN GURU”
Ada 2 faktor yang menyebabkan banyak guru di Indonesia tidak mampu memerankan perannya sebagai seorang guru sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.


Dicky Natanael H. R.
Pharmacy and Food Analyst Faculty of Pharmacy Sumatera Utara University
10/3/2013





GURU YANG BUKAN GURU
Pendidikan merupakan suatu bentuk pembangunan nasional yang diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kemajuan suatu bangsa digerakkan oleh sistem pendidikan di negara tersebut. Semakin maju suatu bangsa atau negara, tentu semakin tinggi kualitas sumber daya manusianya yang didukung dengan pendidikan yang bermutu. Jadi kemajuan suatu bangsa juga ditentukan oleh sistem pendidikan yang dilaksanakan di negara tersebut.
Berdasarkan UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan ialah suatu usaha yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia guna menunjang kemajuan bangsa dan negara. Dalam hal ini pemerintah menjalankan suatu upaya untuk mencapai tujuan negara seperti tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.
Bicara mengenai pendidikan, tentu tak akan lepas dari eksistensi seorang guru yang merupakan agen pembelajaran di bidang pendidikan. Sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran memiliki fungsi meningkatkan mutu pendidikan nasional. Guru yang merupakan agen utama pembelajaran memegang peranan penting dalam menentukan kualitas peserta didik. Kualitas peserta didik memiliki hubungan yang erat dengan kualitas sang guru, sehingga selain kemampuan pribadi peserta didik, kemampuan seorang guru menjadi kunci tercapainya sistem pendidikan nasional yang memadai.
Dalam UU Nomor 14 tahun 2005 dinyatakan bahwa esensi atau tugas seorang guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dari tugas guru tersebut dapat timbul permasalahan, bagaimana jika guru tidak bisa atau tidak mampu menjalankan tugasnya sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang? Ini menjadi sebuah permasalahan yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Ketika seorang guru tidak mampu memerankan perannya sebagai guru, maka kualitas peserta didiknya pun akan terganggu. Apabila seorang guru gagal dalam menjalankan tugas utamanya sebagai seorang guru sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang, tentu guru tersebut tidak dapat dikatakan sebagai seorang guru, meskipun secara notabene ia adalah guru.
Ada dua faktor penyebab seorang guru tidak mampu melakukan perannya dengan baik sebagaimana mestinya. Dua faktor tersebut ialah faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal terjadi sebagai akibat pengaruh dari luar diri guru tersebut, sedangkan faktor internal datang dari dalam diri guru yang bersangkutan. Faktor eksternal yang mempengaruhi seorang guru gagal menjalankan tugasnya ialah tidak adanya pembekalan dalam mengajarkan suatu materi dari bidang ilmu tertentu kepada calon guru ketika menempuh pendidikan tinggi. Calon guru bidang ilmu tertentu yang menempuh pendidikan tinggi keguruan hanya dibekali cara mengajar peserta didik saja, tidak ada diberikan pembekalan cara mengajarkan suatu materi dari bidang ilmu yang diajar. Sebagai contoh, seorang mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika tidak dibekali bagaimana ia mengajarkan materi Trigonometri dengan baik dan metode yang tepat agar siswanya dapat memahami dan mengerti tentang materi tersebut kelak ketika mahasiswa itu terjun dalam proes pembelajaran di sekolah. Kebanyakan mahasiswa keguruan hanya diajarkan tentang pendalaman materi bidang ilmu yang diambil.
Pemerintah melalui Dirjen Dikti seharusnya melihat permasalahan ini dengan peka. Cikal bakal terbentuknya seorang guru diawali dari pendidikan keguruan yang ia peroleh di perguruan tinggi. Dalam masa inilah seorang calon guru ditempa menjadi pribadi yang berkualitas, sehingga ketika ia menyelesaikan pendidikan tingginya, ia siap terjun menjadi guru yang berkualitas pula dibidangnya. Pembekalan cara mengajarkan materi dengan benar dan kreatif kepada mahasiswa keguruan sangat penting dilaksanakan agar peran guru sebagai agen pembelajaran dan fungsi serta tugasnya sebagai seorang guru kelak dapat terlaksana. Jika hal ini dilakukan, maka tidak ada lagi guru yang tidak mampu memerankan perannya sebagai agen utama pembelajaran dalam sistem pendidikan nasional.
Hal lain yang termasuk ke dalam faktor eksternal adalah kurikulum. Kebijakan penerapan kurikulum juga tidak kalah penting dan memiliki andil dalam mempengaruhi guru sehingga tidak mampu menjalankan tugasnya. Banyak guru tidak mampu mengikuti tuntutan kurikulum yang diberlakukan. Ditambah lagi dengan permasalahan pergantian kurikulum yang keberhasilannya dalam mendongkrak mutu pendidikan masih perlu dipertanyakan. Pergantian kurikulum tanpa ada alasan yang rasional dan tidak melibatkan oknum guru maupun sekolah membuat para guru menjalankan tugasnya semata-mata sebagai profesi belaka. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan prinsip profesionalitas seorang guru seperti tercantum dalam UU Nomor 14 tahun 2005. Banyak di antara guru yang akhirnya meninggalkan prinsip keprofesionalannya hanya karena lebih mengedepankan tuntuan kurikulum. Tidak memiliki komitmen dan tanggung jawab dalam meningkatkan mutu pendidikan menjadi ancaman baru karena desakan kurikulum yang selalu mengalami pergantian.
Sejak tahun 1945 hingga tahun 2013, pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sudah 11 kali melakukan pergantian kurikulum. Seperti kurikulum tahun 1947 yang disebut Kurikulum Rencana Pelajaran Dirinci Dalam Rencana Pelajaran Terurai (17 tahun). Tahun 1964, Kurikulum Rencana Pendidikan Dasar (4 tahun), tahun 1968  Kurikulum sekolah Dasar (6 tahun), tahun 1974 Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (1 tahun), tahun 1975 Kurikulum Sekolah Dasar (9 tahun). Kemudian pada tahun 1984, Kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (10 tahun), tahun 1994 disebut Kurikulum 1994 (3 tahun), tahun 1997 Kurikulum Revisi 1994 (7 tahun), tahun 2004 Kurikulum Berbasis Kompetensi (2 tahun), tahun 2006 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (7 tahun), dan yang terakhir adalah tahun 2013 yang disebut Kurikulum Berkarakter 2013 yang mulai Juli 2013 lalu dilaksanakan di beberapa sekolah pilihan.1
Pergantian kurikulum ini tepat dilakukan guna menunjang perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Harapan dari dilakukannya pergantian kurikulum tersebut adalah untuk menunjang hasil yang lebih baik sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai. Namun, apabila melihat lama pelaksanaan kurikulum tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa pergantian kurikulum di Indonesia tergesa-gesa tanpa adanya evaluasi mendalam yang dilakukan pemerintah. Sejak tahun 1945 hingga 2013 ini, pemerintah belum pernah melakukan kajian mendalam mengenai pelaksanaan kurikulum-kurikulum yang pernah berlaku sebelum dibentuknya kurikulum baru. Sebagai contoh Kurikulum KTSP yang diberlakukan pada tahun 2006 lalu sebagai pengganti Kurikulum KBK tahun 2004. Jika KTSP terancam hanya berlaku 6 tahun, maka lebih tragis lagi KBK hanya berlaku 2 tahun saja.
Hal yang lebih memprihatinkan ialah meski sudah diberlakukan selama 6 tahun, ternyata KTSP belum sepenuhnya dapat dipahami dan dilaksanakan oleh guru-guru di Indonesia. Ada banyak seminar dan workshop yang dilakukan di berbagai daerah guna menunjang peningkatan kualitas guru dan pemahaman terhadap KTSP itu sendiri. Kegiatan tersebut tentu menyedot anggaran yang besar. Namun, evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum itu juga tidak pernah dilakukan oleh pemerintah. Tidak ada evaluasi terhadap keberhasilan dan kegagalan kurikulum tersebut. Padahal, evaluasi terhadap penerapan kurikulum lama sebelum diberlakukannya kurikulum baru sangat penting sebagai panduan dalam penyusunan dan pelaksanaan kurikulum baru nantinya.

1 Alfred Dama. 11 Kali Ganti Kurikulum Tanpa Evaluasi. 19 April 2013. http://kupang.tribunnews.com/2013/04/19/tujuh-desa-di-lembata-belum-diakui-kemendagri. Diakses pada 11 September 2013.
Dalam hal ini pemerintah Indonesia kurang bijaksana dalam memutuskan penerapan kurikulum baru. Ketidakbijaksanaan itu dapat berpengaruh terhadap kinerja guru dan mengganggu dunia pendidikan. Seolah menjadi kebiasaan bagi pemerintah pemegang kuasa pembuat kebijakan untuk mengubah suatu kebijakan tanpa disertai alasan dan evaluasi yang jelas. Seolah hanya ingin dinilai selama menjabat, ia pernah membuat suatu kebijakan, meski kebijakan yang dilakukan hanyalah mengubah sebuah huruf. Seharusnya pemerintah lebih bijak dan lebih teliti dalam membuat suatu kurikulum. Pengawasan dan evaluasi mendalam terhadap pelaksanaan kurikulum perlu dilaksanakan. Jika memang berdasarkan hasil evaluasi kurikulum lama tidak tepat diterapkan, barulah hendaknya dilakukan pergantian kurikulum.
Sedangkan faktor internal penyebab guru tidak mempu menjalankan fungsinya sebagai agen pembelajaran adalah tidak mampunya seorang guru memisahkan antara kepentingan pribadi dan kewajibannya sebagaimana dalam Undang-Undang. Kurangnya rasa tanggung jawab dan rendahnya kepedulian terhadap tugasnya menjadikan guru tidak dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Ada oknum guru yang tega meninggalkan tugas mengajarnya di kelas hanya karena ia harus mengurus permasalahan dalam rumah tangganya. Adalagi  oknum guru yang datang ke kelas hanya untuk memberikan catatan kepada peserta didik, lalu ia pergi ke tempat lain, bahkan ada yang duduk di kantor sambil berbincang-bincang atau melakukan kegiatan lain. Jika hal semacam ini terus terjadi, sudah pasti peserta didik sangat dirugikan. Mereka datang ke sekolah dengan harapan mendapat pelajaran baru, dibimbing mengenai suatu keterampilan, dididik menjadi pribadi yang kritis dalam berpikir, namun yang mereka dapat hanyalah catatan yang bisa mereka salin di rumah tanpa harus ke sekolah.
Pemerintah melalui Dinas Pendidikan kabupaten/ kota hendaknya melakukan pengawasan yang lebih ketat dan sanksi yang lebih tegas lagi terhadap oknum guru yang memiliki masalah seperti ini. Penundaan kenaikan pangkat, pembekuan dana tunjangan, atau bahkan ancaman pencabutan SK PNS dapat digunakan sebagai sanksi tegas kepada guru yang kerap mangkir dari tugasnya. Tindakan evaluasi terhadap guru pun perlu diberlakukan secara berkala sebagai bentuk pengawasan. Tindakan evaluasi yang dilakukan dapat berupa penyebaran kuisioner kepada siswa yang diadakan setiap bulan atau tiga bulan sekali. Apabila pemerintah kurang tegas dan membiarkan hal semacam ini, maka akan semakin banyak guru yang datang ke sekolah bukan untuk melaksanakan tugas, melainkan hanya sebagai simbol ia seorang guru, tetapi pada kenyataannya ia hanya mengejar gaji dan tunjangan.
Permasalahan lain yang juga datang dari diri guru itu ialah lemahnya daya kreasi dan inovasi guru-guru di Indonesia dalam menyampaikan materi pembelajaran. Berdasarkan Permendikbud Nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, alokasi waktu jam tatap muka pembelajaran untuk SD 35 menit, SMP 40 menit, dan SMA/ SMK 45 menit. Dengan waktu tersebut, seorang guru seharusnya mampu untuk menciptakan proses pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Kurikulum menuntut agar peserta didik mampu mengembangkan pola pikir yang kreatif dan inovatif. Namun hal tersebut tentu tidak akan terwujud apabila guru yang mengajar pun tidak mampu menciptakan metode pembelajaran kreatif dan inovatif.
Kebanyakan guru di Indonesia masih menggunakan metode ceramah dalam proses belajar-mengajar. Metode ini tentu kurang memberikan dampak dalam mewujudkan peserta didik yang kreatif mengingat keadaan zaman yang sudah berkembang. Padahal, dalam Permendikbud Nomor 65 tahun 2013, pendidikan yang diberikan terhadap peserta didik harus dapat membuat peserta didik mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta. Untuk mendorong dan mewujudkan peserta didik dalam menghasilkan karya kreatif dan kontekstual dengan keterampilan yang memadai perlu dilakukan pendekatan pembelajaran berbasis pemecahan masalah (project based learning). Pembelajaran semacam ini menuntut daya kreasi dan inovasi seorang guru dalam penyampaian materi ajar kepada peserta didik. Media pembelajaran dan metode ajar yang  digunakan sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses pembelajaran ini.
Seharusnya pemerintah tanggap terhadap permasalahan ini. Pemberdayaan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) perlu diaktifkan dan ditingkatkan kembali guna membahas mengenai permasalahan lemahnya kreativitas guru. Pengenalan dan pelatihan metode mengajar serta pembuatan media ajar sangat penting ditekankan pada guru-guru di Indonesia. Hal ini menjadi poin utama dalam proses pembelajaran di dunia pendidikan formal. Bagaimanapun juga guru adalah agen utama pembelajaran di sekolah. Keberhasilan sebuah sistem pendidikan tergantung pada guru yang menjalankan sistem tersebut. Apabila guru mampu mengemas pembelajaran dengan baik, kreatif, dan inovatif tentu keberhasilan dalam mewujudkan tujuan negara, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan negara akan tercapai. Mustahil sebuah negara akan mampu menjadi negara yang maju dan makmur tanpa adanya pendidikan yang berkualitas. Dan pendidikan yang berkualitas ditentukan oleh guru yang berkualitas pula. Itulah sebabnya ia disebut guru.

Jumat, 30 Agustus 2013

Menghindari Konflik dengan Sahabat Karena Pacar

Menghindari Konflik Dengan Sahabat Karena Pacar
Oleh Puteri Fatia | Yahoo She – Kam, 19 Jan 2012 19:37 WIB

Banyak yang berkata pacar bisa berganti tapi sahabat tak akan pergi. Kenyataannya, tak sedikit pula persahabatan yang bubar karena kehadiran pacar.

Sahabat dan kekasih memang sama-sama penting dalam hidup Anda. Namun dua bagian penting dalam hidup Anda ini seringkali tak sejalan, apalagi jika sang sahabat masih belum berpasangan. Perubahan sikap Anda setelah punya pacar atau sifat sang kekasih yang tak disukai sahabat bisa memicu konflik antara Anda dan sahabat.

Membagi Waktu...
Teman, keluarga, pacar, pekerjaan atau sekolah, semuanya membutuhkan perhatian Anda. Terkadang sulit membagi diri untuk sedemikian banyak kepentingan atau tuntutan. Keseimbangan merupakan hal yang penting. 

Akhir pekan mungkin saja Anda sudah sepenuhnya milik pacar atau keluarga. Tapi jangan lupa Anda tetap menyisihkan waktu untuk memberi perhatian kepada sahabat. Jangan sampai Anda dicap hanya menghubungi kalau lagi butuh.

Jika memang sulit mencari waktu bertemu, tetap hubungi dia dan tanyakan kabarnya. Berkat kemajuan teknologi, Anda punya banyak kemudahan dalam hal ini. Telepon, pesan singkat, chatting, atau jejaring sosial bisa dimanfaatkan untuk tetap menjaga hubungan baik dengan sahabat. Jangan sampai ia merasa dilupakan atau ditinggalkan setelah Anda memiliki kekasih.

Topik yang Membosankan...
Jika Anda bertemu atau berbicara lewat telepon, tanyakan kabarnya dan perkembangan belakangan ini. Hindari terlalu banyak bercerita tentang pacar hingga membuatnya kesal. Jangan melulu membanggakan romantisnya si pacar, betapa perhatiannya dia, dan betapa Anda sangat mengaguminya. Sahabat Anda mengerti Anda sedang jatuh cinta, tapi terus mencekoki dia dengan pembicaraan tentang si pacar pasti lama-lama membuatnya muak.

Ketika pergi bersama, tidak perlu memamerkan kapan terakhir kali Anda dan pacar mengunjungi tempat tersebut dan mengaitkan hampir semua hal dengan si pacar. Lama-kelamaan sahabat Anda akan bosan dan malah menjauhi Anda. Jaga perasaan sang sahabat dan hargai dia sebagai teman bicara yang seimbang.

Melibatkan dalam Konflik...
Konflik antara Anda dan kekasih sebaiknya diselesaikan berdua saja. Tidak perlu melibatkan orang lain, apalagi sahabat. Tidak perlu meminta sahabat berbohong kepada pacar untuk menutupi kesalahan Anda. Tidak semua orang merasa nyaman jika harus menutupi kesalahan orang lain. Jangan membuat hubungan Anda dan sahabat menjadi tidak nyaman dengan melibatkannya dalam konflik. Jika kekasih mengetahui sahabat Anda berbohong, bukan tak mungkin sahabat Anda langsung masuk daftar hitam.

Prioritas Terakhir...
Sekali-sekali membatalkan janji dengan sahabat demi pacar mungkin bisa dimengerti. Namun bila terus-menerus menyisihkan sahabat karena pacar tentu bisa menjadi sumber konflik. Anda harus mengingat kembali hubungan baik Anda dengan sahabat. Dia yang selalu ada pada saat baik maupun pada saat terpuruk. Dia juga selalu menemani saat Anda sedang memiliki pacar atau sedang patah hati karena hubungan cinta yang kandas.

Hargailah kesetiaan sahabat dengan tidak menempatkannya di prioritas terakhir saat Anda sedang dimabuk asmara. Jangan lupakan hari ulang tahunnya, momen penting dalam hidupnya, dan tetap berkirim kabar untuk menjaga hubungan yang baik. Kekasih yang baik pastinya mengerti Anda membutuhkan sahabat untuk menjaga keseimbangan hidup.

Memaksakan Kehendak...
Jika sahabat tidak menyukai pasangan Anda, pasti ia punya alasan tertentu. Coba dengarkan pendapatkan dan berikan penjelasan jika memang ia salah mengerti. Jika setelah dipikir-pikir pendapat sahabat Anda ada benarnya coba terima dengan lapang dada. Anda memang sedang jatuh cinta dengan sang kekasih, tapi bisa jadi masukan dari sahabat bermanfaat untuk memperbaiki diri dan hubungan Anda.

Begitu juga ketika pergi bersama, jangan mengajak sahabat hanya untuk menjadi pelengkap. Jika Anda pergi bertiga, usahakan untuk berbagi fokus antara sahabat dan kekasih. Tentu akan sangat menyebalkan baginya jika hanya ikut sebagai pelengkap sementara Anda sibuk sendiri dengan sang kekasih.

Kamis, 29 Agustus 2013

Pemikiran Mengenai Sebuah PERSAHABATAN

Cobalah ingat kembali masa-masa ketika kamu masuk dalam sebuah sekolah yang baru sebagai siswa baru, baik itu SMP atau SMA. Bagaimanakah perasaanmu waktu itu? Gembira? Was-was? Kurang Senang? Mungkin dua perasaan yang disebutkan terakhir itu sangat umum ditemukan. Kita merasa was-was dan kurang senang karena kita memasuki suatu lingkungan yang baru. Apalagi jika teman satu sekolah kita dulu tidak ada yang sama dengan kita. Jika saja ada yang kita kenali, tentulah kita tidak akan terlalu was-was atau kesepian. Biasanya di awal-awal MOS (Masa Orientasi Siswa) kita mulai mengenal dan mendapat teman baru. Dari sinilah nantinya akan terbangun suatu hubungan akrab/ chemistry yang akan membentuk sebuah persahabatan.

1. Persahabatan Sejati
Banyak orang merasa bahwa ia tidak bisa mendapat teman. Mereka merasa ada yang tidak beres dengan dirinya sehingga tidak ada orang yang mau menjadi temannya. Mungkin tubuhnya terlalu pendek, atau hidungnya terlalu pesek, atau matanya terlalu sipit, atau bahkan kulitnya terlalu hitam, dan lain sebagainya. Oleh karena itu mereka berusaha sedapat mungkin mengubah ciri-ciri fisiknya agar lebih dapat diterima orang lain. Ada lagi yang berusaha "membeli" teman-temannya dengan menghamburkan uang, mengikuti semua keinginan temannya, memuji-muji, memberi sanjungan, dan dengan berbagai cara lainnya. Tetapi benarkah sikap yang demikian? Jawabnya ialah salah. Hubungan persahabatan yang baik seharusnya ditandai dengan kepedulian yang tinggi.

Ada pepatah Inggris mengatakan: "a friend in need is a friend indeed". Artinya, teman dalam kesusahan adalah teman yang sejati. Ada pula perkataan bijak demikian: "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran". Pepatah dan perkataan bijak tersebut banyak mengandung kebenaran. Pada saat-saat senang, kita tidak akan kekurangan teman. Mereka selalu ada di sekitar kita untuk ikut menikmati segala kesenangan kita. Namun apabila kesusahan menimpa kita, siapakah yang mau tinggal menemani kita? Biasanya orang segera menjauhi kita karena takut akan dimintai tolong. Nah, itulah sebabnya dikatakan "sahabat sejati adalah sahabat di dalam kesusahan". Persahabatan yang sejati mengenal kasih yang tidak melihat dari sisi keuntungan, materi, atau finansial.

2. Solidaritas yang Keliru
Hubungan persahabatan yang baik adalah hubungan yang memungkinkan semua yang terlibat mengatasi persoalan dirinya, mengembangkan kepribadian dan bakatnya secara positif sehingga berguna bagi banyak orang. Namun masalahnya, persahabatan bukanlah sesuatu yang mudah.
Seorang laki-laki menulis demikian:
"Sejak kecil saya suka diejek bahwa mulut saya bau, mungkin karena dulu saya malas sikat gigi. Oleh sebab itu, dari kecil sampai SMP saya minder untuk berbicara dengan orang lain. Barulah pada akhir SMP, setelah menyadari pentingnya arti pergaulan, saya mulai berani bicara." (M.A.W. Brouwer, Pergaulan, 1981, hlm. 82).
Seorang laki-laki lainnya menulis:
"Pernah suatu kali aku menolong seorang sahabatku dengan segala apa yang dapat kulakukan, tapi apa mau dikata? Suatu kali setelah ia menemukan teman baru, dia lupa dan tinggalkan aku sendiri". (ibid., hlm. 76)

Kita dapat pula menemukan teman yang nyata-nyata merugikan kita. Misalnya dia suka menjerumuskan kita ke jalan yang salah. Hal seperti itu banyak sekali kita temukan. Mungkin Anda sendiri pernah dikecam habis-habisan dan dimusuhi oleh teman-teman sekelompokmu karena kamu tidak mau melakukan sesuatu, misal merokok, membolos, menonton film BF, melakukan tindak kriminal kecil, bahkan sampai besar. Atau mungkin kamu sendiri pernah melakukan pemaksaan tersebut kepada temanmu? Tekanan seperti itu biasanya sangat kuat sehingga jarang seorang remaja mengatakan tidak, seringkali anak laki-laki dikatakan sebagai pengecut, banci, pecundang, dan lain-lain oleh temannya karena ia tidak mau melakukan pola pergaulan yang buruk. Sebutan tersebut memang menyakitkan, sehingga banyak orang menyerah demi terhindar dari sebutan-sebutan tersebut. Hal-hal seperti inilah yang dikatakan sebagai solidaritas yang keliru.

3. Batas-Batas Persahabatan
Persahabatan yang baik tentunya mengenal norma-norma dan batasan. Untuk menjadi sahabat yang baik kita perlu mengingat bahwa teman kita/ atau sahabat kita itu bukan objek. Dia adalah subjek yang mempunyai kehendak yang bebas. Seorang filsuf bernama Martin Buber dalam sebuah bukunya menggambarkan dua jenis hubungan, yakni antara "Aku dan Benda" serta "Aku dan Engkau". Hubungan dengan seorang sahabat tidak boleh diwujudkan dengan pola "Aku dan Benda", melainkan dalam pola "Aku dan Engkau". Artinya, engkau mempunyai kebebasan penuh untuk bersikap dan mengambil tindakan sendiri sesuai dengan pikiranmu. Meski demikian, sebagai seorang sahabat yang baik tentu kita pun harus bisa memberikan petunjuk dan peringatan apabila teman/ sahabat kita menempuh jalan yang salah.

Adakalanya kita mengharapkan balasan atas kebaikan yang kita lakukan kepada sahabat kita. Itu adalah hal wajar dan selayaknya terjadi dalam sebuah hubungan persahabatn. Ada sifat timbal-balik atau berbalasan dalam suatu hubungan persahabatan yang baik. Namun, persahabatan yang baik janganlah melulu didasarkan pada hubungan timbal-balik itu. Artinya, janganlah kita melakukan sesuatu karena mempunyai harapan akan balasan terhadap kebaikan kita. Sebaliknya, pada diri teman/ sahabat yang mendapat bantuan, selayaknya timbul inisiatif untuk membalas kebaikan yang telah diterimanya. Ungkapan balasan tidak seterusnya berupa materi, namun ucapan terimakasih adalah ungkapan balasan yang tidak ternilai harganya. Jadi, jangan Anda lupa untuk berterimakasih kepada sahabat Anda sebagai tanda syukur Anda kepada sahabat.

Selain itu, hubungan antara sahabat membutuhkan keterbukaan. Dengan keterbukaan, kita dapat mengungkapkan perasaan kepada sahabat kita, sehingga kita pun dapat berbagi perasaan suka-duka kepada sahabat kita tersebut. Namun, kita harus berhati-hati, karena keterbukaan mengandung risiko yang tinggi. John Powell, seorang anggota ordo Jesuit, pernah menulis buku " Why I am Afraid to Tell You Who am I". Dalam buku itu ia berkata: "Kalau aku membuka diriku, maka aku menjadi rentan. Aku berharap engkau pun menghargai kerentananku, karena hanya itulah yang aku miliki". Artinya, seorang sahabat yang baik harus dapat menjaga hubungan persahabatannya dengan menjaga rahasia seorang sahabat sesuai dengan yang diinginkannya. Tetapi, kenyataannya hal ini seringkali tidak terjadi. Tidak jarang kita mendengar cerita yang dimulai "ini rahasia ya, jadi jangan cerita-cerita lagi kepada orang lain". Namun yang terjadi ialah dengan segera cerita itu beredar kemana-mana, dan sesegera itu pula semua orang mengetahui apa yang tadinya rahasia.

Persahabatan yang baik harus dijauhkan dari gosip-gosip, cerita-cerita yang belum pasti kebenarannya, yang dapat menghilangkan hal yang paling inti dan pokok dalam suatu hubungan persahabatan, yakni rasa percaya. Hal lain yang juga penting dalam mencari sahabat ialah sifat-sifat apakah yang kita harapkan dari sahabat itu? Apakah kita mengharapkan diri kita ditulari oleh sifat-sifat yang baik? Atau justru sebaliknya? Membiarkan kita ditulari oleh sifat-sifat buruk dari pergaulan yang salah? Untuk mencari sahabat, Anda bisa melihat/ menurut pada kata-kata bijak berikut:

"Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang".

"Janganlah berteman dengan orang yang lekas gusar dan janganlah bergaul pada seorang pemarah, namun berteman akrablah dengan si tukang senyum".


M.A.W. Brouwer menulis demikian:
"Jumlah orang yang gagal, tersesat, atau binasa karena salah memilih teman cukup besar...Bergaul dengan anak-anak drop out yang kerjanya hanya ngebut, main disko, bilyar, minum drugs atau alkohol, bukanlah pergaulan yang bermanfaat. Bergaul dengan teman yang baik, yang berbeda agama, atau berbeda lingkungan kebudayaan akan memperluas pandangan hidup dan memberikan pengalaman yang berharga."

Jelas kiranya bahwa kita harus berhati-hati dalam memilih sahabat. Carilah dan temukan sahabat yang sejati. Di pihak lain, janganlah kita bersikap fanatik, hanya mau bersahabat dengan teman dari suku, agama, atau kelompok ekonomi tertentu. Ada banyak pengalaman baik yang dapat kita petik lewat persahabatan dengan orang-orang yang berbeda suku, agama, ataupun kelas ekonominya dengan kita. Semua itu bahkan dapat menjadi bekal dalam kehidupan kita kelak di tengah masyarakat. Jadi, mulai saat ini hargai sahabat Anda dengan apa yang Anda dapat lakukan.

Terimakasih. Tuhan memberkati.

by: Natanael
adapted from: Suluh Siswa with changed

We are in XII IPA 1 SMAN 7 TEBO


































Selasa, 27 Agustus 2013

Bila Pacar Cemburui Sahabat

Bila Pacar Cemburui Sahabat

Oleh Gelar Pradipta Utama | Yahoo She – Sen, 25 Jun 2012 16:28 WIB


"Kenapa dia sering banget sih BBM-an sama kamu? Coba, lihat ini, kemarin sore kan kamu nggak balas BBM aku, tapi
ternyata kamu BBM-an sama dia. Kamu lebih pilih dia daripada aku?"

Percintaan dan persahabatan berada di dua dunia yang berbeda. Mereka saling berhubungan, bergantung, dan membutuhkan. Tapi tidak seharusnya saling mengganggu, menyakiti, dan bahkan menghancurkan. Tapi teori ini kadangkala tidak bisa begitu saja berlaku di dunia nyata. Garis pembatas dua dunia ini begitu tipis, hingga (kadang) tampak seperti tidak ada. Atau, mungkin ada, tapi dianggap tak ada — akibat api cemburu yang berlebih.

Sebenarnya, percakapan di atas tidak perlu terjadi. Percakapan yang muncul sebagai reaksi dari pertanyaan di atas, juga tidak perlu terjadi. Jika dan hanya jika, kamu dan dia dan sahabatmu tahu porsi dan peran masing-masing.

Begini kondisinya, kamu sudah bersahabat sejak SMA dengan laki-laki ini. Kamu dan dia sudah sangat dekat sebagai teman. Sedangkan kamu, baru saja menjalin hubungan cinta dengan laki-laki baru. Bagaimana kamu akan menjelaskan pada pacarmu tentang sahabatmu? 

Hal apa yang akan kamu katakan agar ia yakin, bahwa sahabatmu bukanlah ancaman hubungan kalian? 

Begini caranya. Katakan padanya posisi kamu, dan sahabat kamu, sejak awal jadian. Jangan biarkan dia yang lebih dulu menemukan hubungan spesial antara kamu dan sahabatmu. Katakan sejak awal, "Sayang, dia sahabat aku. Dia bukan saingan kamu, oke?" Katakan padanya bahwa dia, dan sahabatmu, bukanlah dua pilihan yang harus dipilih salah satu. Ini bukan ujian akhir, dimana kamu harus memilih hanya satu jawaban untuk lulus, atau mengulang kelas di semester depan. Kamu sayang dia. Kamu senang berbagi cerita sepulang kamu bekerja. Dia adalah orang terakhir dan pertama yang kamu sapa tiap harinya. Kamu menghabiskan Sabtu malam bersamanya.

Tapi, kamu juga membutuhkan sahabatmu. Untuk bergosip tentang teman kuliahmu yang lebih dulu menikah, untuk saling mendukung meraih mimpi yang kamu katakan padanya waktu SMA, untuk mencari jalan keluar saat kamu tak lagi tahu bagaimana cara melunakkan hatimu saat dia marah, dan mungkin, untuk menemanimu saat dia menyakitimu, nanti. 

Katakan padanya kamu tahu batas. Kamu tahu sejak kamu memutuskan untuk menerimanya menjadi pacarmu, kamu harus menjaga perasaan dan juga hubungan kalian. Kamu akan selalu menghormati posisinya sebagai pacar, dan posisinya sebagai sahabatmu. Seperti minyak dan air, kamu tidak akan pernah mencampuradukkan dua dunia ini jadi satu. 

Katakan padanya, sahabatmu mendukung kalian. Sahabatmu adalah orang pertama yang mengatakan padamu untuk menerimanya sebagai pacarmu. Sahabatmu, adalah orang yang selalu meyakinkan kamu kalau pacarmu sangat menyayangimu, dan mengatakan padamu untuk meninggalkan mantanmu, demi dia. Sahabatmu, ingin kamu, dan dia, bahagia.

Terakhir, katakan padanya untuk percaya padamu. Hubungan ini, akan menghadapi begitu banyak rintangan, dan cobaan di depannya. Beberapa di antaranya, lebih besar, sulit, dan rumit dari ini. Justru sebenarnya, kamu-pacarmu-dan-sahabatmu bukanlah sebuah masalah sejak awal. Minta ia untuk memberikan kepercayaan penuh pada dirimu, terkait dengan hubunganmu dengan sang sahabat. Jika kamu terbukti melanggar janji, katakan padanya, ia bisa mengakhiri hubungan ini dengan segera.

Namun, sebelum kamu katakan beberapa hal di atas pada pacarmu, cobalah jawab pertanyaan ini: Benarkah kamu tahu batas? Yakinkah kamu, hubungan kamu dan dia hanya sebatas sahabat?

Meski pacar dan sahabat bukanlah sesuatu yang bisa dipilih, bagaimana jika suatu saat kamu ada di posisi yang terpaksa memilih satu di antara mereka? Siapa yang kamu pilih, pacar atau sahabat?