Cobalah ingat kembali masa-masa ketika kamu masuk dalam sebuah sekolah yang baru sebagai siswa baru, baik itu SMP atau SMA. Bagaimanakah perasaanmu waktu itu? Gembira? Was-was? Kurang Senang? Mungkin dua perasaan yang disebutkan terakhir itu sangat umum ditemukan. Kita merasa was-was dan kurang senang karena kita memasuki suatu lingkungan yang baru. Apalagi jika teman satu sekolah kita dulu tidak ada yang sama dengan kita. Jika saja ada yang kita kenali, tentulah kita tidak akan terlalu was-was atau kesepian. Biasanya di awal-awal MOS (Masa Orientasi Siswa) kita mulai mengenal dan mendapat teman baru. Dari sinilah nantinya akan terbangun suatu hubungan akrab/ chemistry yang akan membentuk sebuah persahabatan.
1. Persahabatan Sejati
Banyak orang merasa bahwa ia tidak bisa mendapat teman. Mereka merasa ada yang tidak beres dengan dirinya sehingga tidak ada orang yang mau menjadi temannya. Mungkin tubuhnya terlalu pendek, atau hidungnya terlalu pesek, atau matanya terlalu sipit, atau bahkan kulitnya terlalu hitam, dan lain sebagainya. Oleh karena itu mereka berusaha sedapat mungkin mengubah ciri-ciri fisiknya agar lebih dapat diterima orang lain. Ada lagi yang berusaha "membeli" teman-temannya dengan menghamburkan uang, mengikuti semua keinginan temannya, memuji-muji, memberi sanjungan, dan dengan berbagai cara lainnya. Tetapi benarkah sikap yang demikian? Jawabnya ialah salah. Hubungan persahabatan yang baik seharusnya ditandai dengan kepedulian yang tinggi.
Ada pepatah Inggris mengatakan: "a friend in need is a friend indeed". Artinya, teman dalam kesusahan adalah teman yang sejati. Ada pula perkataan bijak demikian: "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran". Pepatah dan perkataan bijak tersebut banyak mengandung kebenaran. Pada saat-saat senang, kita tidak akan kekurangan teman. Mereka selalu ada di sekitar kita untuk ikut menikmati segala kesenangan kita. Namun apabila kesusahan menimpa kita, siapakah yang mau tinggal menemani kita? Biasanya orang segera menjauhi kita karena takut akan dimintai tolong. Nah, itulah sebabnya dikatakan "sahabat sejati adalah sahabat di dalam kesusahan". Persahabatan yang sejati mengenal kasih yang tidak melihat dari sisi keuntungan, materi, atau finansial.
2. Solidaritas yang Keliru
Hubungan persahabatan yang baik adalah hubungan yang memungkinkan semua yang terlibat mengatasi persoalan dirinya, mengembangkan kepribadian dan bakatnya secara positif sehingga berguna bagi banyak orang. Namun masalahnya, persahabatan bukanlah sesuatu yang mudah.
Seorang laki-laki menulis demikian:
"Sejak kecil saya suka diejek bahwa mulut saya bau, mungkin karena dulu saya malas sikat gigi. Oleh sebab itu, dari kecil sampai SMP saya minder untuk berbicara dengan orang lain. Barulah pada akhir SMP, setelah menyadari pentingnya arti pergaulan, saya mulai berani bicara." (M.A.W. Brouwer, Pergaulan, 1981, hlm. 82).
Seorang laki-laki lainnya menulis:
"Pernah suatu kali aku menolong seorang sahabatku dengan segala apa yang dapat kulakukan, tapi apa mau dikata? Suatu kali setelah ia menemukan teman baru, dia lupa dan tinggalkan aku sendiri". (ibid., hlm. 76)
Kita dapat pula menemukan teman yang nyata-nyata merugikan kita. Misalnya dia suka menjerumuskan kita ke jalan yang salah. Hal seperti itu banyak sekali kita temukan. Mungkin Anda sendiri pernah dikecam habis-habisan dan dimusuhi oleh teman-teman sekelompokmu karena kamu tidak mau melakukan sesuatu, misal merokok, membolos, menonton film BF, melakukan tindak kriminal kecil, bahkan sampai besar. Atau mungkin kamu sendiri pernah melakukan pemaksaan tersebut kepada temanmu? Tekanan seperti itu biasanya sangat kuat sehingga jarang seorang remaja mengatakan tidak, seringkali anak laki-laki dikatakan sebagai pengecut, banci, pecundang, dan lain-lain oleh temannya karena ia tidak mau melakukan pola pergaulan yang buruk. Sebutan tersebut memang menyakitkan, sehingga banyak orang menyerah demi terhindar dari sebutan-sebutan tersebut. Hal-hal seperti inilah yang dikatakan sebagai solidaritas yang keliru.
3. Batas-Batas Persahabatan
Persahabatan yang baik tentunya mengenal norma-norma dan batasan. Untuk menjadi sahabat yang baik kita perlu mengingat bahwa teman kita/ atau sahabat kita itu bukan objek. Dia adalah subjek yang mempunyai kehendak yang bebas. Seorang filsuf bernama Martin Buber dalam sebuah bukunya menggambarkan dua jenis hubungan, yakni antara "Aku dan Benda" serta "Aku dan Engkau". Hubungan dengan seorang sahabat tidak boleh diwujudkan dengan pola "Aku dan Benda", melainkan dalam pola "Aku dan Engkau". Artinya, engkau mempunyai kebebasan penuh untuk bersikap dan mengambil tindakan sendiri sesuai dengan pikiranmu. Meski demikian, sebagai seorang sahabat yang baik tentu kita pun harus bisa memberikan petunjuk dan peringatan apabila teman/ sahabat kita menempuh jalan yang salah.
Adakalanya kita mengharapkan balasan atas kebaikan yang kita lakukan kepada sahabat kita. Itu adalah hal wajar dan selayaknya terjadi dalam sebuah hubungan persahabatn. Ada sifat timbal-balik atau berbalasan dalam suatu hubungan persahabatan yang baik. Namun, persahabatan yang baik janganlah melulu didasarkan pada hubungan timbal-balik itu. Artinya, janganlah kita melakukan sesuatu karena mempunyai harapan akan balasan terhadap kebaikan kita. Sebaliknya, pada diri teman/ sahabat yang mendapat bantuan, selayaknya timbul inisiatif untuk membalas kebaikan yang telah diterimanya. Ungkapan balasan tidak seterusnya berupa materi, namun ucapan terimakasih adalah ungkapan balasan yang tidak ternilai harganya. Jadi, jangan Anda lupa untuk berterimakasih kepada sahabat Anda sebagai tanda syukur Anda kepada sahabat.
Selain itu, hubungan antara sahabat membutuhkan keterbukaan. Dengan keterbukaan, kita dapat mengungkapkan perasaan kepada sahabat kita, sehingga kita pun dapat berbagi perasaan suka-duka kepada sahabat kita tersebut. Namun, kita harus berhati-hati, karena keterbukaan mengandung risiko yang tinggi. John Powell, seorang anggota ordo Jesuit, pernah menulis buku " Why I am Afraid to Tell You Who am I". Dalam buku itu ia berkata: "Kalau aku membuka diriku, maka aku menjadi rentan. Aku berharap engkau pun menghargai kerentananku, karena hanya itulah yang aku miliki". Artinya, seorang sahabat yang baik harus dapat menjaga hubungan persahabatannya dengan menjaga rahasia seorang sahabat sesuai dengan yang diinginkannya. Tetapi, kenyataannya hal ini seringkali tidak terjadi. Tidak jarang kita mendengar cerita yang dimulai "ini rahasia ya, jadi jangan cerita-cerita lagi kepada orang lain". Namun yang terjadi ialah dengan segera cerita itu beredar kemana-mana, dan sesegera itu pula semua orang mengetahui apa yang tadinya rahasia.
Persahabatan yang baik harus dijauhkan dari gosip-gosip, cerita-cerita yang belum pasti kebenarannya, yang dapat menghilangkan hal yang paling inti dan pokok dalam suatu hubungan persahabatan, yakni rasa percaya. Hal lain yang juga penting dalam mencari sahabat ialah sifat-sifat apakah yang kita harapkan dari sahabat itu? Apakah kita mengharapkan diri kita ditulari oleh sifat-sifat yang baik? Atau justru sebaliknya? Membiarkan kita ditulari oleh sifat-sifat buruk dari pergaulan yang salah? Untuk mencari sahabat, Anda bisa melihat/ menurut pada kata-kata bijak berikut:
"Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang".
"Janganlah berteman dengan orang yang lekas gusar dan janganlah bergaul pada seorang pemarah, namun berteman akrablah dengan si tukang senyum".
M.A.W. Brouwer menulis demikian:
"Jumlah orang yang gagal, tersesat, atau binasa karena salah memilih teman cukup besar...Bergaul dengan anak-anak drop out yang kerjanya hanya ngebut, main disko, bilyar, minum drugs atau alkohol, bukanlah pergaulan yang bermanfaat. Bergaul dengan teman yang baik, yang berbeda agama, atau berbeda lingkungan kebudayaan akan memperluas pandangan hidup dan memberikan pengalaman yang berharga."
Jelas kiranya bahwa kita harus berhati-hati dalam memilih sahabat. Carilah dan temukan sahabat yang sejati. Di pihak lain, janganlah kita bersikap fanatik, hanya mau bersahabat dengan teman dari suku, agama, atau kelompok ekonomi tertentu. Ada banyak pengalaman baik yang dapat kita petik lewat persahabatan dengan orang-orang yang berbeda suku, agama, ataupun kelas ekonominya dengan kita. Semua itu bahkan dapat menjadi bekal dalam kehidupan kita kelak di tengah masyarakat. Jadi, mulai saat ini hargai sahabat Anda dengan apa yang Anda dapat lakukan.
Terimakasih. Tuhan memberkati.
by: Natanael
adapted from: Suluh Siswa with changed