Rabu, 08 Januari 2014

Keranjang Arang

Cerita singkat ini adalah tentang kehidupan rohani seorang Kakek dan cucunya. Pada suatu ketika, sang cucu mengunjungi Kakeknya. Rumah sang Kakek kebetulan dekat dengan sebuah sungai. Saat itu sang Kakek bertanya pada cucunya.
"Cucuku, bagaimana kondisi rohanimu? Apakah hubungan pribadimu dengan Tuhan baik-baik saja?" tanya sang Kakek.
Lalu sang cucu pun menjawab, "Baik Kek...".
Kemudian si Kakek bertanya kembali...
"Oh ya cucuku, sudah pernahkah kau membaca Alkitab ini dari kitab yang paling awal hingga yang terakhir?".
Si cucu menjawab, "Belum Kek, belum sekali pun...".

Tergerak oleh perasaan penasaran, sang Kakek kembali bertanya...
"Kau orang Kristen bukan???"
"Ya iya lah Kek, maksud Kakek apa sih, kok kayak meragukan aku gitu?? jawab cucunya.
"Lalu kenapa kau belum pernah membacanya sampai akhir?" tanya sang Kakek kembali.
Sang cucu pun mengungkapkan alasannya...
"Aku tidak tahu Kek, hanya saja aku tidak merasakan ada atau terjadi sesuatu yang berbeda dengan diriku ketika aku membaca Alkitab. Semua serasa mengalir begitu saja, seolah aku hanya membaca, hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidak membacanya dan aku lebih memilih untuk menjadi orang baik saja. Itu sudah cukup memenuhi tujuan pembacaan Alkitab kan Kek, bahwa kita dituntut untuk menjadi orang yang baik. Sia-sia saja kan Kek kalau aku harus membacanya setiap hari sementara perintahnya sama saja yaitu supaya kita hidup baik, lebih baik aku menjadi orang yang baik saja langsung tanpa harus membuang-buang waktu membacanya, toh perintahnya sudah jelas kan, terang sang cucu.

Mendengar penjelasan sang cucu, si Kakek merasa sedih dan ia pergi ke dapur. Dari dapur ia mengambil sebuah keranjang arang yang sangat kotor karena bekas arang menempel di sela-sela keranjang itu. Lalu si Kakek berkata kepada cucunya...
"Pergilah ke sungai dekat rumah ini, dan ambilkanlah air dengan keranjang ini!"
Mendengar perintah sang Kakek yang konyol, si cucu merasa keheranan dan bingung. Ia berpikir bahwa Kakeknya sudah gila menyuruhnya mengambil air dengan keranjang arang. Ia merasa bahwa Kakeknya menyuruhnya mengerjakan sesuatu yang sia-sia. Maka ia pun protes.
"Kek, ini keranjang arang, bukan baskom atau ember, bagaimana mungkin aku dapat mengambil air dengan keranjang ini. Ini pekerjaan yang sia-sia kek", ujar sang cucu.
Sang Kakek hanya tersenyum dan berkata, "Pergilah! Lakukan saja apa yang Kakek perintahkan padamu nak".
Meski dalam hati si cucu merasa itu adalah pekerjaan yang sia-sia, namun karena ia menghargai Kakeknya, ia pun pergi ke sungai untuk mengambil air dengan keranjang arang dari Kakeknya tadi.

Sesampainya di sungai, si cucu terus mencoba berulang-ulang untuk mengambil air dengan keranjang itu. Puluhan kali bahkan hingga ratusan kali ia mencoba, namun sesendok air pun tidak dapat ia ambil dengan keranjang itu. Akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali kepada Kakeknya.

Setibanya di rumah Kakeknya, ia menjelaskan semua daya dan upayanya untuk mengambil air dengan keranjang arang itu di sungai sebagaimana diperintahkan Kakeknya kepadanya. Namun alhasil tidak sesendok air pun ia bawa kepada Kakeknya. Lalu ia pun berkata kepada Kakeknya...
"Kakek, aku sudah berusaha keras untuk mengambil air dengan keranjang itu, tapi semua usahaku sia-sia, tak sesendok air pun kudapat, aku justru kelelahan Kek", kata si cucu.
Mendengar itu sang Kakek hanya tersenyum dan ia bertanya pada cucunya...
"Lalu apa yang kau dapati di keranjang itu cucuku?" tanya sang Kakek.
"Tak ada apapun juga yang kudapat selain keranjang ini basah dan tenagaku pun terbuang percuma Kek", jawab si cucu.
Sang Kakek tertawa kecil mendengar jawaban cucunya.
"Kenapa Kakek tertawa? Kakek hanya mengerjaiku ya?", ujar cucunya cemberut.
Lalu si Kakek berkata...
"Disitulah letak kesalahanmu cucuku, tidakkah kau melihat dan memperhatikan sesuatu yang berbeda terjadi dengan keranjang arang itu dari sebelum kau membawanya ke sungai?", tanya sang Kakek.
Sejenak sang cucu memperhatikan keranjang arang yang masih dipegangnya dan ia pun menemukan ada sesuatu yang berbeda terjadi pada keranjang arang itu. Lalu si cucu pun berkata...
"Ya Kek, aku melihat keranjang arang ini jauh lebih bersih daripada saat Kakek memberikannya kepadaku tadi".

Dengan tersenyum sang Kakek berkata...
"Begitulah kita, seperti keranjang arang yang kotor itu, kita selalu berbuat dosa dalam hidup ini meski kita merasa sudah menjadi pribadi yang baik di mata Tuhan dan kita merasa sudah menjadi seperti yang Tuhan harapkan. Namun kenyataannya tidak, kita tetap masih berdosa di tengah-tengah kebaikan yang kita lakukan, karena ukuran kita bukan ukuran Tuhan, cucuku. Tapi begitulah Kasih Tuhan itu kepada kita yang berdosa ini, Ia selalu mengampuni dan menyucikan kita lewat pengampunan-Nya yang selalu mengalir seperti aliran air sungai. Terkadang kita merasa apa yang kita kerjakan sia-sia dan percuma, namun tahukah kau cucuku bahwa Tuhan punya berbagai cara untuk membuat kita dekat pada-Nya, untuk membuat kita merasakan kasih dan kerunia-Nya. Oleh karena itu, jangan pernah merasa bahwa membaca Alkitab itu adalah sesuatu yang sia-sia, meski kau tak langsung merasakan dampak dari apa yang kau baca, karena Tuhan itu bekerja tanpa kita tahu bagaimana cara Ia menyatakan kehendak-Nya pada kita. Teruslah membaca Alkitab, maka kau akan bersih layaknya keranjang arang tadi", ungkap sang Kakek.

Salam Semangat Selalu
Nathanael H. R.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar